Cari Blog Ini

Senin, 03 Mei 2010

kata dan makna kata

Bahasa Indonesia SMA/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Standar
Kompetensi
- Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat
madya
Kompetensi
Dasar
- Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata,
ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja
Indikator
- Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
- Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim
dan antonim dalam teks bacaan
- Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa,
kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya
(diterima/ditolak) berdasarkan paradigma
atau analogi
- Mengidentifikasi kata, frasa, kalimat, atau bentuk
kata baru yang perlu dipersoalkan kebenarannya/
ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkankan kaidah
atau kelaziman
Pada kelas X, kita sudah belajar tentang kelas kata. Pada bab ini, kita akan
mempelajari kembali kelas kata dalam kaitannya dengan keterampilan
membaca. Selain itu, kita juga akan mempelajari kata berdasarkan
bentukan kata, makna kata, serta mengindentifikasi kata/frasa baru. Setelah
mempelajari bab ini, kita harus mampu mendaftarkan dan mengelompokkan
kata berdasarkan kelas kata dan makna kata. Kita juga harus mampu
mengindentifikasi penggunaan kata, frasa, ungkapan, dan kalimat yang baru
yang tidak benar atau tidak lazim sesuai kaidah bahasa Indonesia.
BAB 4
MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA,
BENTUK KATA UNGKAPAN, DAN KALIMAT
DALAM KONTEKS BEKERJA
62 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Wacana
Kebiasaan Lama Kurangi Sampah Plastik
Kebiasaan lama tak selalu jelek. Bahkan ada yang ramah lingkungan.
Sewaktu kecil, sampai awal tahun 1980-an, kita masih terbiasa melihat
nenek atau ibu-ibu tetangga ke pasar tradisional membawa tas sendiri
yang terbuat dari anyaman pandan atau tas kain. Sejalan merebaknya
pasar swalayan yang menyediakan tas belanja plastik sebagai layanan bagi
pelanggan sekaligus promosi, kebiasaan itu menghilang. Ritual belanja
memang jadi lebih praktis, namun menimbulkan masalah lain: gunungan
sampah!
Padahal, tahukah Anda, plastik itu terbuat dari minyak bumi yang
jumlahnya makin hari makin terbatas? Jadi “Bring your own bag.” Ini
kampanye dari toko pernik interior IKEA di Singapura. Sejak Hari Bumi
22 April 2007, mereka tak lagi menyediakan tas belanja plastik. Para
pelanggan diberi pilihan membawa tas belanja sendiri, beli tas belanja dari
belacu dengan rancangan cantik seharga Sin $ 1,2 (setara Rp 12.000), atau
membeli tas plastik seharga 5 atau 10 sen dolar Singapura, bergantung
pada ukurannya. Jadi, kampanye pengurangan penggunaan plastik bukan
hanya untuk mengurangi gunungan sampah, tapi juga menghemat BBM.
Di pertigaan Rawa Belong, Jakarta Barat, tiap sore hingga malam bisa
kita temui warung tenda “Bubur Ayam Lumayan Bang Tatang.” Bubur nasi
kental dengan tumpukan suwiran ayam ini laris manis. Tak kalah laris, cara
Bang Tatang menyiapkan bubur bagi pelanggannya yang antre sampai ke
luar tenda. One man show, ia menjejerkan 20 mangkuk kosong sekaligus,
dengan gerakan cepat, dalam tempo 5 menit, semuanya sudah terhidang di
hadapan pelanggan.
“Bawa tempat sendiri, saya tak menyediakan plastik, repot dan lama
melayaninya!” katanya dengan nada ketus tiap kali pelanggannya pesan
untuk dibawa pulang. Sombong! Begitulah komentar pembeli yang baru
pertama kali berkunjung. Tapi bila dipikir-pikir, “kesombongan” Bang
Tatang adalah perilaku baik yang ramah lingkungan.
Dulu, bila ingin membeli bakso, soto, atau es kelapa muda di pojok
jalan, banyak di antara kita yang membawa mangkuk sendiri. Sekarang,
pemandangan semacam itu nyaris tak pernah ada. Yang umum justru
banyak yang memanfaatkan kantong plastik. Idealnya, kita harus membawa
rantang susun sendiri bila membeli makanan untuk dibawa pulang dari
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 63
restoran. Tindakan ini untuk mengurangi sampah styrofoam dan plastik.
Bukankah sekarang, wadah makanan banyak yang dirancang cantik?
Dijamin tak bakal bikin malu.
Kampanye penggunaan tas bukan plastik sendiri sebenarnya sudah
cukup lama ada di Indonesia. Pusat perkulakan Makro, misalnya, saat
mulai beroperasi di Indonesia tak menyediakan tas belanja. Pelanggan
dipersilakan mengangkut belanjaan dalam kemasan karton aslinya,
sedangkan perusahaan tata rias The Body Shop sempat mengadakan
kampanye Reuse Reduce Recycle dengan memberikan potongan harga bagi
pelanggannya, yang mengisi ulang produk dengan membawa wadah lama.
Namun, kurangnya peminat membuat The Body Shop mengubah strategi.
Tak lagi menerima wadah lama, tapi mengganti bahan wadah dengan
materi yang lebih cepat terurai di alam.
Untuk mengurangi gunung sampah plastik dan menghemat BBM,
kembalilah pada kebiasaan lama, membawa wadah sendiri untuk jajanan
dan belanjaan kita.
(Sumber: Intisari, Juli 2007)
A. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
Untuk mendayagunakan bahasa secara maksimal, diperlukan kesadaran
akan pentingnya pengayaan kosakat. Kesadaran itulah yang memotivasi
kita untuk lebih rajin membaca. Membaca merupakan kegiatan berbahasa
yang secara aktif menyerap informasi atau pesan yang disampaikan melalui
media tulis, seperti buku, majalah, dan surat kabar. Aktivitas membaca
tidak saja dilakukan untuk menyerap informasi atau pesan yang diuraikan
di dalam bacaan, tetapi membaca dapat juga dilakukan dengan tujuan
menelaah unsur-unsur kebahasaan yang terkandung di dalamnya.
Dalam sebuah bacaan, terkandung banyak unsur bahasa yang berkaitan
dengan makna kata dan ruang lingkupnya. Juga penggunaan gaya bahasa
yang berhubungan dengan ungkapan dan bentuk-bentuk pemakaiannya.
Pada bab ini, kita akan membahas dan menelaah unsur-unsur kebahasaan
di dalam bacaan berkaitan dengan kata, bentuk kata, ungkapan, serta
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
Kata merupakan unsur yang sangat penting dalam membangun suatu
kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada kalimat. Setiap kata mempunyai
fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan kelas kata atau jenis
64 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
katanya. Di kelas X, kita sudah mempelajari kelas kata dan pada bab ini akan
dibahas kembali tentang kelas kata dan hubungannya dengan kalimat.
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) kata kerja (verba)
(2) kata sifat (adjektif )
(3) kata keterangan (adverbia)
(4) kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
(5) kata tugas
1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata
kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata dapat digolongkan ke
dalam kelas kata kerja apabila memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat.
Contoh:
pergi (Pergi dengan gembira.)
tidur (Tidur dengan nyenyak.)
jalan (Jalan dengan santai.)
(2) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah.
Contoh:
(akan) mandi
(sedang) tidur
(telah) pergi
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
(tidak) makan
(tidak) lihat
(tidak) pulang
(4) Berawalan me- dan ber-
Contoh:
melatih
melihat
merakit
berdiskusi
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 65
berpikir
berusaha
2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat ialah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau
keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata sifat
berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabila
memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata
sekali.
Contoh:
indah (sangat indah/indah sekali)
baik (sangat baik/baik sekali)
tinggi (sangat tinggi/tinggi sekali)
(2) Dapat diberi awalan se- dan ter-.
Contoh:
luas (seluas/terluas)
bodoh (sebodoh/terbodoh)
mudah (semudah/termudah)
buruk (seburuk/terburuk)
baik (sebaik/terbaik)
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
murah (tidak murah)
sulit (tidak sulit)
pahit (tidak pahit)
3. Kata Keterangan (Adverbia)
Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan
pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbia.
(1) Adverbia dasar bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya,
tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
(2) Adverbia turunan terbagi atas 3 bentuk berikut.
66 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(a) Adverbia reduplikasi, misalnya ; agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih,
paling-paling.
(b) Adverbia gabungan, misalnya : belum boleh, belum pernah, atau tidak
mungkin.
(c) Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau,
agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.
4. Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
4.1. Kata benda
Kata benda ialah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep,
ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek. Suatu
kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata benda apabila memenuhi
persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh:
mobil (mobil yang bagus/mobil yang sangat bagus)
pemandangan (pemandangan yang indah/pemandangan yang
sangat indah)
pemuda (pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah)
(2) Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an.
Contoh:
permainan
pertunjukan
kesehatan
(3) Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh :
saya (bukan saya)
roti (bukan roti)
gubuk (bukan gubuk)
4.2. Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu
pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda atau
nomina.
Contoh:
Aku sudah mencoba membujuknya.
Kami sangat berharap kepada kalian.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 67
Dia telah meninggalkan kita.
Itu memang miliknya.
4.3. Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk
menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya.
Bapak Bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
Sepertiga dari harta warisan itu disumbangkan ke panti asuhan.
5. Kata Tugas
Kata tugas dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu (1) kata depan,
(2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata seru, dan (5) partikel.
(1) Kata Depan (Preposisi)
Kata depan adalah kata yang menghubungkan dua kata atau dua
kalimat.
Contoh:
di (sebelah) utara = menunjuk arah
ke timur = menunjuk arah
dari pasar = menunjuk tempat
pada hari senin = menunjuk waktu
(2) Kata Sambung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa
yang sederajat: kata dengan kata; frasa dengan frasa, klausa dengan
klausa.
Contoh :
adik dan kakak
makan atau minum
tidak makan, tetapi minum
ia tidak naik kelas karena bodoh
Adi meletakkan tasnya, lalu ia membuka seragamnya.
68 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(3) Kata Sandang (Artikula)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.
Contoh:
sang guru (sang bermakna tunggal)
para pemimpin (para bermakna jamak)
si cantik (si bermakna netral)
(4) Kata Seru (Interjeksi)
Kata seru adalah tugas yang digunakan untuk mengungkapkan seruan
hati.
Contoh:
Aduh, kakiku sakit sekali.
Astaga, mengapa kamu berani mencuri ?
Ayo, jangan putus asa.
“Wah, mahal sekali!” kata adik.
Kata yang dicetak miring adalah kata seru. Contoh lain kata seru adalah
hai, nah, oh, celaka, gila, Masya Allah, dan Alhamdulillah.
(5) Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai,
mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi.
Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah, dan pernyataan
(berita).
Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek, dan -pun
Kita baru saja mempelajari kelas kata beserta ciri-cirinya. Dalam suatu
wacana, tentu terdapat berbagai kata, frasa, dan kalimat. Kita dapat merinci
setiap kata berdasarkan kelas katanya.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3. Kata Ulang
4. Kata Majemuk
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 69
1. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang tidak berimbuhan atau yang belum
diberikan awalan, akhiran, sisipan, dan penggabungan awalan akhiran.
Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar
karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan. Jika katakata
itu diberi imbuhan, hasilnya antara lain terbaik, getaran, pekerja, kesakitan,
dan pegunungan. Jika sudah mengalami penambahan atau pengimbuhan,
kata tersebut sudah dikategorikan ke dalam kata turunan.
2. Kata Turunan
Sebuah kata dapat menyampaikan beberapa pengertian melalui
bentukan-bentukannya. Dari satu kata pula, kita dapat membuat atau
mengembangkannya menjadi beberapa kata turunan. Dari kata turunan
tersebut, kita dapat mengungkapkan satu bahkan beberapa ide/perasaan.
Pemekaran kata dengan memberi imbuhan itu pun akan membuat katakata
tersebut mengalami perubahan jenis atau kelas katanya. Coba Anda
amati kata satu termasuk kata bilangan/numeralia yang berarti “bilangan
asli pertama”. Kata satu diberi awalan ber- menjadi bersatu. Kata tersebut
mengalami perubahan arti, meskipun masih memiliki arti dasar yang tetap,
yaitu “satu”, bersatu artinya berkumpul atau bergabung menjadi satu. Kata
bersatu bukan merupakan kelas kata bilangan lagi, tetapi termasuk kelas
kata kerja.
Bagaimana pengimbuhannya?
Anda telah melihat bahwa dari satu kata (misalnya satu) dapat kita
bentuk belasan kata turunannya. Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan
pertalian yang teratur antara bentuk dan maknanya. Hal ini dapat berlaku
pula pada kata-kata yang lainnya. Perhatikan tabel berikut dengan cermat.
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk baik seluruh kata
maupun sebagian. Semua kata ulang wajib di tulis dengan memakai tanda penghubung ( - ).
Contoh :
lauk-pauk mondar-mandir
asuh pengasuh pengasuhan 􀈬 mengasuh asuhan
baca pembaca pembacaan membaca bacaan
bangun pembangun pembangunan membangun bangunan
buat pembuat pembuatan perbuatan membuat buatan
cetak pencetak pencetakan percetakan mencetak cetakan
edar pengedar pengedaran pengedaran mengedar edaran
potong pemotong pemotongan perpotongan memotong potongan
sapu penyapu penyapuan persapuan menyapu sapuan
tulis penulis penulisan menulis tulisan
ukir pengukir pengukiran mengukir ukiran
impor pengimpor pengimporan mengimpor imporan
Kata􀈱Asal􀈱
Verba
Pelaku Proses􀈱 Hal/Tempat Perbuatan Hasil
70 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk
baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan
memakai tanda penghubung (-).
Contoh:
lauk-pauk mondar-mandir
anak-anak porak-poranda
berjalan-jalan biri-biri
gerak-gerik kupu-kupu
dibesar-besarkan laba-laba
huru-hara
Macam-macam kata ulang
1. Ulangan seluruh kata dasar
Contoh:
anak-anak meja-meja
buku-buku ibu-ibu
main-main makan-makan
2. Ulangan kata dengan memberi imbuhan
Contoh:
berjalan-jalan bermanja-manja
dibesar-besarkan dipukul-pukulkan
berlari-larian menarik-narik
3. Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang
kedua
Contoh:
gerak-gerik caci-maki
mondar-mandir compang-camping
huru-hara terang-benderang
bolak-balik carut-marut
lauk-pauk
4. Ulangan seluruh kata yang dinamakan kata asal
Misalnya :
anai-anai ubur-ubur
kunang-kunang lobi-lobi
kupu-kupu mata-mata
agar-agar
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 71
4. Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk
satu pengertian.
Contoh:
duta besar
kereta api senja utama
meja tulis guru
rumah makan
terjun payung
buku sejarah baru
kereta api cepat luar biasa
lapangan udara
rumah sakit jiwa
siap tempur
Contoh di atas menunjukkan bahwa kata dasar majemuk dapat sendiri
dari gabungan dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata bahkan dapat
lebih. Hal yang terpenting adalah gabungan kata-kata itu harus menunjuk
kepada satu arti dan tidak melebihi batas fungsi sebagai kata.
Cara penulisan kata majemuk ada yang terpisah atas dua kata atau
lebih, seperti contoh tadi (duta besar, rumah makan) dan ada yang ditulis
serangkai (jika hubungan kedua kata sudah sangat padu).
Contoh:
matahari kacamata
sapu tangan beasiswa
olahraga antarkota
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Kita sudah mempelajari proses pembentukan kata yang semua itu
berpengaruh pada perubahan makna kata dari makna awalnya. Selain
proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan oleh dua hal,
yaitu hubungan referensial dan hubungan antarmakna.
72 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
1. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Referensial
Makna kata ini dibedakan menjadi:
a. Makna denotatif
Makna denotatif ialah makna yang paling dekat dengan bendanya
(makna konseptual), atau kata yang mengandung arti sebenarnya.
Contoh:
1. Bunga mawar itu dipetik Sita dan disuntingkan di rambutnya.
2. Untuk menafkahi kedua anaknya, ia menjual sayuran di pasar.
3. Penjual menawarkan barang kepada pembeli.
4. Bajunya basah kuyup terkena keringat.
b. Makna konotatif
Makna konotatif ialah makna kiasan atau diartikan makna yang
cenderung lain dengan benda nyata (makna kontekstual) disebut juga
makna tambahan.
Contoh :
1. Ayahnya mendapat kursi sebagai anggota dewan.
kursi artinya jabatan/kekuasaan
2. Hatiku berbunga-bunga setelah anakku mendapat juara pertama.
berbunga-bunga artinya gembira
3. Sekarang ia bekerja di tempat yang basah.
basah artinya selalu menghasilkan uang
Dalam pengertian lain makna konotasi berkaitan dengan cakupan
makna halus dan cakupan makna kasar.
Contoh cakupan makna halus:
1. Neneknya sudah meninggal dua hari yang lalu.
2. Istri Pak Dadang seorang perawat di rumah sakit pusat.
3. Ibunya Rosita sedang hamil lima bulan.
4. Mari kita doakan para pahlawan yang telah gugur agar arwahnya
diterima oleh Allah.
Contoh cakupan makna kasar:
1. Pamannya sudah mampus seminggu yang lalu.
2. Kakakku sedang bunting, dia harus berhati-hati.
3. Bininya seorang dokter.
4. Pahlawan telah mati di medan laga.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 73
c. Makna idiomatik (ungkapan)
Secara umum ungkapan berarti gabungan kata yang memberi arti
khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang
sebenarnya.
Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari
beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata
pembentuknya.
Contoh:
− ringan tangan = rajin bekerja, suka memukul
− gerak langkah = perbuatan
− dipeti-eskan = dibekukan atau tidak digunakan
− tertangkap basah = terlihat saat melakukan
− gali lubang tutup lubang = pinjam sini, pinjam sana
− banting stir = mengubah haluan
− jantung hati = kekasih
Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong
perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan
kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan
sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan
ibarat kembang-kembangnya. Dilihat dari bentuk dan prosesnya,
ungkapan dapat diperinci ke dalam beberapa jenis berikut.
1. Menurut jumlah kata
a. Dua kata
− mencari ilham : berusaha mencari ide baru
− bercermin bangkai : menanggung malu
b. Tiga kata atau lebih
− diam seribu bahasa : membisu
− hutangnya setiap helai bulu : tak terhitung banyaknya
2. Menurut zaman
a. Ungkapan lama
− matanya bagai bintang timur : bersinar, tajam
− rambutnya bagai mayang mengurai : ikal, keriting
− berminyak air : berpura-pura
b. Ungkapan baru
− ranjau pers : undang-undang pers
− berebut senja : siang berganti malam
− ranum dunia : penyebab kesulitan
74 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Menurut asalnya
a. Ungkapan berasal dari bahasa asing
− black sheep : kambing hitam
− over nemen : mengambil oper
− side effect : akibat samping
b. Ungkapan berasal dari bahasa daerah
− soko guru : suri tauladan
− anak bawang : yang tidak diutamakan
2. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Antarmakna
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas sinonim,
antonim, dan hiponim.
a. Sinonim
Sinonim ialah pasangan kata atau kelompok kata yang mempunyai arti
mirip atau hampir sama. Walaupun sinonim menunjukkan kesamaan arti
kata, sesungguhnya arti kata-kata itu tidaklah sama betul. Dalam kalimat
tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan tetapi dalam kalimat lain
tidak dapat digunakan atau penggunaannya selalu dipertimbangkan oleh
unsur nilai rasa atau lingkungan penuturnya (kontekstual).
Contoh sinonim dengan kata yang sama maknanya :
− Bung Hatta telah wafat. (telah = sudah)
− Kita merdeka karena jasa Bung Hatta. (karena = sebab)
− Bung Hatta sangat berjasa. (sangat = amat)
Contoh beberapa kata yang memiliki kemiripan makna :
− Tepat di muka gedung kantor pos Jakarta berdirilah sebuah
kompleks bangunan kuno yang kukuh.
− Persis di bangunan kantor pos Jakarta kota tertancaplah
sebuah kawasan bangunan kolot yang kuat.
Makna kalimat 1 dan 2 sama. Namun kalimat 1 lebih jelas isinya, kalimat
2 pilihan katanya kurang tepat sehingga pembaca / pendengar menjadi ragu
menafsirkan maknanya.
b. Antonim
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan maknanya/berlawanan
artinya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 75
Contoh:
a) Sejak sakit batuk, ia pantang minum es.
Ia harus meminum obat itu sesuai yang dianjurkan oleh dokter.
b) Aksi penebangan pohon merupakan perusakan hutan.
Pemerintah menghimbau agar warga melestarikan hutan.
c) Kadang-kadang ia berlatih seminggu sekali.
Nasihat orang tuanya seringkali tidak didengarnya.
d) Perkembangan anak itu sangat lambat.
Dengan tangkasnya, ia menendang bola ke mulut gawang.
Terdapat beberapa perbedaan antara kata-kata yang berantonim.
Oposisi antarkata dapat berbentuk seperti berikut.
a. Oposisi kembar
Contoh:
− laki-laki-perempuan
− jantan–betina
− hidup-mati
b. Oposisi majemuk
Contoh:
− baju-merah
− sapu- tangan
− rumah-makan
c. Oposisi gradual
Contoh:
− kaya- miskin
− panjang- pendek
d. Oposisi relasional (kebalikan)
Contoh:
− orangtua-anak
− guru-murid
− memberi-menerima
e. Oposisi inversi
Contoh:
− Jual-beli
− Pulang-pergi
76 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
f. Oposisi komplementer
Contoh:
− mur-baut
− kompor-minyak
g. Oposisi inkompabilitas
Contoh:
− merah-hijau
h. Oposisi hierarki
Contoh:
- camat lurah.
c. Hiponim
Hiponim ialah kata yang memiliki hubungan hierarkis dengan
beberapa kata yang lain. Hubungan hierarki ini terdiri atas satu kata yang
merupakan induk (hipernim), yang memiliki semua komponen makna kata
lainnya yang menjadi unsur bawahannya (hiponim). Proses hiponim dan
hipernim menimbulkan istilah kata umum dan kata khusus.
Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan umum,
sedangkan kata khusus digunakan untuk perinciannya. Jadi, kata umum
dapat diterapkan untuk semua hal, sedangkan kata khusus diterapkan
untuk hal tertentu saja. Contoh penggunaan kata umum dan khusus dalam
kalimat seperti berikut.
1. Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras.
Berdering (kata khusus), biasanya digunakan untuk bunyi bel. Kata
umumnya ialah bunyi. Kata bunyi bisa digunakan untuk semua suara
benda/sesuatu.
2. Untuk menyambut tahun baru, Ibu merangkai melati dan mawar.
Kata melati dan mawar merupakan kata khusus. Kata umumnya ialah
bunga.
Berdasarkan contoh penggunaan kata umum dan kata khusus di atas,
cermatilah kata umum dan kata khusus pada tabel berikut ini.
Kata Umum Kata Khusus
melihat memandang, menonton, meratap,
menyaksikan, menengok, mengintip
mamalia sapi, kambing, kucing
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 77
pola hidup berfoya-foya, boros, irit, mewah,
sederhana
musik jazz, rock, keroncong.
kendaraan mobil, motor, bus
membawa menjinjing, memikul, memanggul,
menenteng, menggendong
memotong memenggal, mengiris, menebang,
memancung, menggergaji
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk,
Kategori, dan Makna Kata
Kamus dapat membantu seseorang untuk mencari variasi bentukan
kata, kelas kata, dan contoh-contoh pemakaiannya, termasuk pelafalan,
pedoman kata, dan bentuk ungkapannya. Kamus disusun berdasarkan
abjad yang disertai penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Di dalam
kamus, terdapat keterangan tentang hal-hal berikut.
(1) Label bidang ilmu, contoh: Adm (administrasi dan kepegawaian), Anat
(anatomi) Ark (arkeologi).
(2) Dialek, contoh Jw untuk Jawa, BT untuk Batak, Ar untuk Arab, Bld
untuk Belanda.
(3) Ragam bahasa, contoh cak untuk cakapan, hor untuk ragam hormat, kas
untuk ragam kasar.
(4) Penjelasan makna, contoh berlari: berjalan kencang,
(5) Label kelas kata, contoh a (adjektiva), adv (adverbia), n (nomina), v
(verba)
78 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Contoh Lembaran Kamus
E. Bentukan Kata/Frasa Baru
Kata adalah satuan terkecil dari tata bahasa yang bermakna. Makna kata
merupakan perwujudan kesatuan perasaan dari pikiran yang disampaikan
lewat bahasa. Dari satu kata, dapat kita bentuk belasan kata turunannya.
Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan pertalian yang teratur antara
bentuk dan maknanya. Dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata banyak
mengalami penambahan. Hal ini terjadi karena adanya proses asimilasi
dan adaptasi dari kosakata asing dan juga akibat paradigma atau proses
analogi. Paradigma artinya pembentukan kata mengikuti pola atau contoh
yang sudah ada, sedangkan analogi membandingkan pola yang sudah ada.
Pada dasarnya keduanya sama.
Contoh bentukan kata berdasarkan paradigma:
Cuci
Mencuci (perbuatan) pencuci (pelaku) pencucian (proses) cucian (hasil)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 79
Berlaku pula pada kata-kata di bawah ini.
Pelaku Proses Hasil Perbuatan
potong pemotong pemotongan potongan memotong
cetak pencetak pencetakan cetakan mencetak
lukis pelukis pelukisan lukisan melukis
tanam penanam penanaman tanaman menanam
ajar pelajar pembelajaran ajaran mengajar
Bentuk Dasar
Makna
Contoh pembentukan frasa berdasarkan paradigma atau analogi.
1. Dari frasa rumah produksi, muncul frasa yang sejenis, yaitu:
− rumah singgah
− rumah potong
− rumah duka
− rumah industri
2. Dari frasa bawah sadar, muncul frasa baru:
− bawah umur
− bawah standar
− bawah tanah
− bawah harga
3. Dari bentukan kata pramugari dan pramuniaga, muncullah bentukan
kata:
− pramuwisma
− pramusiwi
− pramusaji
− pramuria
− pramuwisata
− pramujasa
4. Dari frasa alih bahasa, timbul frasa:
− alih ragam
− alih ilmu
− alih kuasa
− alih haluan
− alih teknologi
5. Dari frasa hari raya muncul frasa baru :
− jalan raya
− pasar raya
80 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
− panen raya
6. Dari kata tamu agung muncul
− jaksa agung
− upacara agung
− hakim agung
− jumat agung
− dewan pertimbangan agung
− mahkamah agung
− karya agung
7. Dari gabungan kata angkat topi timbul gabungan kata:
− angkat diri
− angkat bicara
− angkat sumpah
− angkat sembah
− angkat bahu
− angkat kaki
8. Dari istilah adipati, timbul istilah:
− adibusana
− adikuasa
− adidaya
− adikarya
Contoh pembentukan kata yang dipengaruhi oleh imbuhan asing.
− -if : aktif, agresif
− -er : komplementer, parlementer
− -al : struktur, normal
− -is : teknis, praktis
− -isasi : modernisasi, normalisasi, legalisasi
− pasca- : pascapanen, pascasarjana
− pra- : prasejarah, prakarsa.
F. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang
Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan,
adakalanya pemakai bahasa tidak cermat memilih kata yang dituangkannya
di dalam kalimat. Akibatnya, kalimat yang diungkapkan tidak tepat atau
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 81
tidak sesuai dengan kaidah yang benar. Kesalahan itu dapat terjadi pada
penggunaan bentuk kata (proses morfologi), pemakaian kelompok kata
(frasa), pemilihan ungkapan, atau keefektifan kalimat.
Dalam bentuk lisan, kesalahan itu terjadi disebabkan oleh hal-hal
berikut.
1. Kesalahan penggunaan imbuhan (bentuk kata).
Contoh :
a. Pintu masuk SMK 3 akan diperlebarkan. (salah)
Pintu masuk SMK 3 akan dilebarkan atau Pintu masuk SMK 3 akan
diperlebar. (benar)
b. Jangan dibiasakan mengenyampingkan masalah itu. (salah)
Jangan dibiasakan mengesampingkan masalah itu. (benar)
c. Rudi sedang mencat pagar rumahnya. (salah)
Rudi sedang mengecat pagar rumahnya. (benar)
2. Ketidaktepatan pemakaian frasa (kelompok kata).
Contoh :
a. Untuk sementara waktu, siswa tidak bisa praktik karena ruangan
sedang direnovasi. (salah)
Untuk sementara siswa tidak bisa praktik karena ruangan sedang
direnovasi. (benar)
b. Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik darat. (salah)
Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik jalan. (benar)
3. Kesalahan kalimat
a. Di dalam darah orang itu mengandung virus HIV. (salah)
Darah orang itu mengandung virus HIV. (benar)
b. Untuk peningkatan mutu pendidikan dari sekolah swasta dimana
memerlukan ketekunan dan keuletan para pamong. (salah)
Untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah swasta diperlukan
ketekunan dan keuletan para pamongnya. (benar)
Kesalahan juga banyak terjadi akibat penggunaan bentukan kata atau
frasa yang baru yang tidak lazim atau tidak benar secara kaidah bahasa.
Ketidaktepatan bentukan kata atau frasa juga dapat disebabkan kesalahan
secara analogi atau paradigma.
82 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Perhatikanlah contoh di bawah ini.
a. pertanggungan jawab dalam kalimat “Laporan pertanggungan jawab
gubernur telah diterima sebagian besar anggota dewan.” (tidak tepat
secara kaidah/tidak lazim) seharusnya pertanggungjawaban.
b. goreng pisang dalam kalimat “Ia membeli goreng pisang untuk adiknya.”
(tidak tepat secara kaidah/tidak lazim ) seharusnya pisang goreng.
c. pengangguran dalam kalimat “Ia menjadi pengangguran setelah
perusahaannya bangkrut.” (salah secara analogi) seharusnya penganggur
dari kata menganggur (verba)-penganggur (nomina)-pengangguran
(nomina proses)
d. ruang rokok untuk ruang khusus merokok (tidak lazim) meskipun
dianalogikan kepada ruang tunggu untuk ruang khusus menunggu.
e. Bentuk kata pemelajaran, tidak tepat secara analogi, sebab kata tersebut
berasal dari kata belajar yang diberi imbuhan pe-an, seperti kata berhenti
menjadi pemberhentian.
f. Kata penglepasan, pada kalimat “ Penglepasan siswa kelas XII dimeriahkan
dengan kegiatan pentas seni dari siswa-siswi.” Tidak tepat secara
analogi, sebab kata dasarnya lepas, jika diberi imbuhan pe-an, menjadi
pelepasan.
Untuk membuat kalimat yang cermat, kita harus memahami ciri kalimat
efektif. Kalimat yang baik atau efektif mempunyai ciri-ciri seperti berikut.
a. Kepadanan
− Memiliki S dan P dengan jelas.
(di depan S tidak boleh ada kata depan dan di depan P tidak boleh
ada kata penghubung yang)
Contoh:
(1) Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah. (benar)
(2) Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar
uang kuliah. (salah)
− Tidak terdapat S ganda.
Contoh:
(1) Dia pulang setelah dia membeli berbagai kebutuhan. (salah)
(2) Dia pulang setelah membeli berbagai kebutuhan. (benar)
− Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai dalam kalimat
tunggal.
Contoh:
(1) Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (salah)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 83
(2) Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (benar)
b. Keparalelan
Persamaan bentuk kata digunakan dalam kalimat yang mengandung
rincian.
Contoh:
(1) Harga minyak dibekukan dan dinaikkan secara bertahap (benar)
(2) Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap.
c. Kehematan
Kehematan menggunakan kata atau frasa
− Menghindarkan penjamakan bentuk jamak
Contoh:
(1) Para tamu-tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (salah)
(2) Para tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (benar)
− Penggunaan kata-kata yang berlebihan.
Contoh:
(1) Ia memakai baju warna merah. (salah)
(2) Ia memakai baju merah. (benar)
d. Kepaduan (tegas dan lugas)
− Hindarkan kalimat bertele-tele.
Contoh:
(1) Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita,
orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa
kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar
dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan
yang adil dan beradab. (salah)
(2) Kita harus dapat mengembalikan kepribadian kita yang sudah
ke luar dari rasa kemanusiaan dan dari kepribadian manusia
Indonesia yang adil dan beradab.
e. Kecermatan
Kecermatan pemakaian kata, penulisan kata, penggunaan tanda baca.
Contoh : Dua puluh lima ribuan.
Bisa diartikan dua puluh lima lemar uang ribuan (Rp 25.000,-)
Atau
Dua puluh lembar uang, lima ribuan.
84 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
RANGKUMAN
A. Klasifikasi Kata berdasarkan Kelas Kata
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) Kata kerja (verba)
(2) Kata sifat (adjektif)
(3) Kata keterangan (adverbia)
(4) Kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan
(numeralia)
(5) Kata tugas yang dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu
(1) kata depan, (2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata
seru, dan (5) partikel.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
(1) Kata Dasar
(2) Kata Turunan
(3) Kata Ulang
(4) Kata Majemuk
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Selain proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan
oleh dua hal, yaitu:
(1) Makna kata berdasarkan hubungan referensial yang dibedakan
menjadi makna denotatif, makna konotatif, dan makna idiomatik
(ungkapan).
(2) Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna yang terdiri atas
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas: sinonim,
antonim, dan hiponim.
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk, Kategori, dan Makna
Kata
Kamus dapat membantu seseorang bukan saja untuk mencari seperti
variasi bentukan kata, kelas kata dan contoh-contoh pemakaiannya,
termasuk pelafalan, pedoman kata, dan bentuk ungkapannya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 85
E. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan atau tulisan masih
terdapat pemakaian bahasa yang kurang cermat dalam memilih kata
yang digunakan pada kalimat sehingga kalimat tidak sesuai dengan
kaidah bahasa yang benar. Ketidakcermatan dapat terjadi pada pemilihan
bentuk kata (proses morfologi, pemakaian kelompok kata (frasa),
pemilihan ungkapan, atau keefektivitasan kalimat. Kesalahan juga bisa
terjadi karena bentukan kata yang baru atau tidak lazim.

Minggu, 21 Februari 2010

Pengenalan Bahasa



Frase, Klausa, dan Kalimat

A. Frase
Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.
Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu
a. Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
b. Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.
Macam-macam frase:
A. Frase endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:
1. Frase endosentrik yang koordinatif, yaitu: frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.
Misalnya: kakek-nenek pembinaan dan pengembangan
laki bini belajar atau bekerja
2. Frase endosentrik yang atributif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan.
Misalnya: perjalanan panjang
hari libur
Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif.
3. Frase endosentrik yang apositif: frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan.
Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.
Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
Susi, …., sangat pandai.
…., anak Pak Saleh sangat pandai.
Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap).
B. Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.
Misalnya:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.
Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di ….
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. kelas
C. Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.
1. Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal.
Misalnya: baju baru, rumah sakit
2. Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan kata verbal.
Misalnya: akan berlayar
3. Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.
Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4. Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.
Misalnya: tadi pagi, besok sore
5. Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinnya.
Misalnya: di halaman sekolah, dari desa
D. Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.
Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku.
Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda:
1. Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.
2. Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita.

B. Klausa
Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.
Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P).
Penggolongan klausa:
1. Berdasarkan unsur intinya
2. Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik menegatifkan predikat
3. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat

C. Kalimat
a. Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.
Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.
b. Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
1. Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
2. Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
3. Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
4. Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial

D. Jenis Kalimat
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.

Kalimat Tunggal Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci. S-P
S-P-O
S-P-O-K

2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a. Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya: Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
Misalnya: Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.
1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a. Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan, serta, lagipula, dan sebagainya.
Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b. Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c. Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.

2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
Misalnya: Diakuinya hal itu
P S
Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
anak kalimat pengganti subjek
b. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
Misalnya: Katanya begitu
Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
anak kalimat pengganti predikat
c. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
Misalnya: Mereka sudah mengetahui hal itu.
S P O
Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
anak kalimat pengganti objek
d. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
Misalnya: Ayah pulang malam hari
S P K
Ayah pulang ketika kami makan malam
anak kalimat pengganti keterangan
3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
Ketika ia duduk minum-minum
pola atasan
datang seorang pemuda berpakaian bagus
pola bawahan I
datang menggunakan kendaraan roda empat
pola bawahan II

3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a. Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1) Hanya terdiri atas dua kata
2) Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3) Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4) Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b. Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
c. Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a. Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b. Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
c. Kalimat transformasi. Contoh:
i) Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii) Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii) Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv) Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?
4. Kalimat Mayor dan Minor
a. Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh: Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
Kiki pergi ke Bandung.
Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah.
b. Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Diam!
Sudah siap?
Pergi!
Yang baru!
Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Amir mengambil.
Arif ada.
Kiki pergi
Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.
5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat
1. kontaminasi= merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah
contoh:
diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
saling memukul, pukul-memukul saling pukul-memukul (salah)
Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
2. pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :
para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
banyak siswa-siswa (banyak siswa)
saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3. tidak memiliki subjek
contoh:
Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4. adanya kata depan yang tidak perlu
Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5. salah nalar
waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)
6. kesalahan pembentukan kata
mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
menyetop seharusnya menstop
mensoal seharusnya menyoal
ilmiawan seharusnya ilmuwan
sejarawan seharusnya ahli sejarah
7. pengaruh bahasa asing
Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8. pengaruh bahasa daerah
… sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
… oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
.
E. Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1. Konjungsi antarklausa
a. Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b. Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2. Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3. Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.

Rabu, 17 Februari 2010


Versus


JIka aku bukanlah aku..... maka ta ada yang tahu apa yang ku mau
Jika aku bukanlah aku...... maka ta ada yang tahu apa yang kutahu
JIka rasa aku miliki maka aku bisa tahu dia

Jika cinta aku miliki maka aku bisa beri ia


Kapan aku tahu ia

kapan ia tahu aku

kenapa ada berat dalam melangkah

kenapa ada beban dalam mengolah


aku masih cari apa
aku masih cari siapa
aku masih cari bagaimana

POETRY




Pakaian Anda
Kahlil Gibran


Pakaian Anda menyembunyikan banyak kecantikan Anda, namun mereka tidak menyembunyikan keburukan,
Dan meskipun Anda mencari di pakaian kebebasan privasi, Anda dapat menemukan di dalamnya sebuah sabuk dan rantai.
Semoga kau bisa bertemu dengan matahari dan angin dengan kulit Anda lebih dan kurang dari pakaian Anda,
Untuk nafas kehidupan di bawah sinar matahari dan tangan kehidupan berada di angin.
" Beberapa dari Anda mengatakan, "Ini adalah angin utara yang telah terjalin pakaian yang kita kenakan."
Dan aku berkata, Ay, itu adalah angin utara,
Tapi malu adalah alat tenun, dan pelunakan dari otot adalah benang.
Dan ketika pekerjaan selesai dia tertawa di hutan.
Tidak lupa bahwa kerendahan hati adalah perisai terhadap mata yang tidak bersih.
Dan ketika yang najis akan ada lagi, apa yang kesopanan tapi belenggu dan menjatuhkan pikiran?
Dan tidak lupa bahwa bumi kenikmatan untuk merasakan kaki telanjang dan angin lama untuk bermain dengan rambut Anda
Aku hanya setetes embun

Bukan yang terdalam, tapi sulit tuk di lupakan........
sendu sepi tak pernah berharap kelebihan kan datang.......
aku hanya orang yang tak tampak kesempurnaan..
aku hanya sebagian hati yang terkecil tuk disadari dengan kehampaan....
bukan kedengkian yang aku sanjungkan...
bukan rasa dendam yang aku miliki dengan rasa penuh pelarian...
jiwa ku, hati ku, sejalan seiring dengan keadaan sekitar lingkungan yang amat teramat munafik....
bukan engkau yang ku rindu, bukan engkau dengan hatimu yang kumiliki...
terniang dalam nada....
terjerumus dalam keharuman.....
haruskah ku terluka?
di saat matahari menyinari tubuhku, di saat embun pagi yang sedang kunikmati...



BUKAN YANG TERDALAM TAPI SULIT TUK DIPLUPAKAN

Bukan yang terdalam, tapi sulit tuk di lupakan........ sendu sepi tak pernah berharap kelebihan kan datang....... aku hanya orang yang tak tampak kesempurnaan.. aku hanya sebagian hati yang terkecil tuk disadari dengan kehampaan.... bukan kedengkian yang aku sanjungkan... bukan rasa dendam yang aku miliki dengan rasa penuh pelarian... jiwa ku, hati ku, sejalan seiring dengan keadaan sekitar lingkungan yang amat teramat munafik.... bukan engkau yang ku rindu, bukan engkau dengan hatimu yang kumiliki... terniang dalam nada.... terjerumus dalam keharuman..... haruskah ku terluka? di saat matahari menyinari tubuhku, di saat embun pagi yang sedang kunikmati...




AKU KESEPIAN


Hari-hariku lewati hanya sendiri tanpa kekasih
Tapi tetap ku nikmakti indahnya hari tanpa tambatan hati
Aku ingin menjadi setitik awan kecil dinadi Bersama mentari
Walaupun kusendiri tapi aku masih ada
Masih ada cinta dihati
Kadang aku merindukan
Sentuhan wanita
Ingin ku curahkan semua hasrat dijiwa
Yang t’lah lama ku pendam




AKU CINTA DIA


Dulu semua terjalin begitu indah..
Dari pengenalan menjadi pendekatan..
Dari percobaan menjadi keseriusan...
Awalnya tak mau memikirkan logika
Yang terpenting cinta telah bicara..
Tak peduli bagaimana akhirnya..
Waktupun merayap pasti..
Kebersamaan membuat kasih yang begitu dalam..
Sangat indah dan tak mungkin dilupakan...
Perbedaanpun di abaikan..
Pertentangan menjadi penghalang Semua hancur..
Aku menangis dalam perihku..
Cinta terbesarku harus kukorbankan..
Entah demi siapa..??
Demi keluarga atau agama
Perbedaan yang tak bisa disatukan Membuat aku dan dia terluka sama-sama terluka.. Mengumpulkan puing-puing perjalanan cinta
Sesak dadaku mengenangnya..
Siapa yang bisa disalahkan..
Waktu yang telah mempertemukan
Ataukah aku yang tak mengindahkan logika
Aku mencintainya..
Tulus tanpa syarat apa-apa
Sedetikpun aku tak mampu bergeming
Cintaku begitu besar..
Cinta terbesar yang terjalin dalam sebuah perbedaan
Tuhan..aku cinta dia..
Haramkah kika aku mencintainya
Salahkah jika aku menyayangnya..
semuapun harus kulepaskan..
Termasuk dia..
Cintaku dan cintanya..
Tertulis hanya dalam sebuah cerita
Bukan pengukuhan dalam satu ikatan..
Berjalan sendiri
Tapi hati saling memiliki..
Kulepaskan dia...
Semoga cintaku selalu menjaganya..




KEMANA KUMENITIPKAN CINTA


Pernah aku menitipkan cinta pada dia

Yang kuharap akan selalu dia jaga

Menyekam indah pada muaranya bahagia
Menjadi hamparan cerita nyata..

Bukan lagi maya…

Semuanya sirna…

Cintaku tidak dia jaga
Ranumnya harap menjadi sia-sia
Cinta yang kutitipkan dia gadai dengan dusta

Dengan apa lagi aku menebusnya ?
Baginya setiaku belum cukup
Menurutnya pengertianku masih kurang

Sejauh apa lagi cinta harus kutapaki
Setinggi apa lagi cinta harus aku daki
Sedalam apa lagi cinta harus aku selami
Sungguh..aku tak tahu lagi..
Separuh nafasku telah menjadi bagiannya
Mimpi terindahpun pernah kubangun dipersandingannya

Karena perjalanan yang kuarungi adalah dia

Di relung ini terpatri nama dia

Setiap mimpipun hanyalah sebagai cerita

Kini aku hanya berdiri pada luka
Rasa yang tlah ada
Sudah tercabik menjadi bulir kecewa
Dan aku tak tahu lagi kemana kumenitipkan cinta...




KEPERGIANMU


air mataku menetes melihat kepergianmu
semua yang kulakukan untuk membuatmu tetap disini tak dapat menahan langkahmu tuk pergi begitu cepat kau tinggalkanku
mengakhiri cerita cinta bersamamu
cinta yang begitu kubanggakan
selalu kujaga dan kupuja
kini harus melangkah pergi
untuk sebuah kesalahan yang tak ku inginkan
apa yang ku harapkan takkan pernah terwujud
dia membenciku, menolakku dan menjauhiku
kini tak ada lagi cinta itu semuanya tlah terbang bersama kepingan udara
dia takkan pernah tau bagaimana aku mencintainya
diapun takkan pernah tau bagaimana aku merindunya
semuanya hanya untuknya
walaupun perih tetap kujalani demi tuk mendapat setetes rasa sayangnya cinta...
mengapa harus aku yang terluka
kau tinggalkanku dan membawa kebencian di hatimu
takkan kudapatkan lagi cinta itu
harus kurelakan dirimu, walau ku tak mau..



Kehilangan Arah



haRi iNI TAK UBa se EkoR aNgsa yG kehilanGan aRaH...
LanGkah Ku goNtai..
MeNgapa kesaLahan maSa LaLU meMbaWa ku daLam haRapan-haram kecemasan....
seperti malam tak berBinTaNg..GeLap..

TuHaN....teRheNti naFas ku beRhemBus aLangkah leBih baik
keTimBanG keTika aPa yG aKu Lakukan seLaLu haRam diMata jaksa keHiduPan...
aKu leLah yH tuHan...LeLah aTas seGaLaH keCeRoBohaN ku Masa siLam...

aPa yG haRus aKu LaKuKan uNtuk meNghapus coReNgan tiNta hiTam daLam LeMbar haRian keHIdupAN kU Yg KUsAM??
aPa deNgan Mati??
LaLu apa kau suDih meRenGkarnasi aKu..
daN keMbaLi meNjaLani keHiDuPan sePerTi masa iNi...
seaNdaiNYa kau suDi....aLanGkah baik ku aKhiRi saJa hiDuP ku..
daN keMbaLi beRsinaR daLam haRi-haRi ku..

aKu raPuh yH tuHan....
LaNgit tuRun kan Lah huJan keTika ku muLai MeNaNGis
aGar huJan meNyamarkan aiR maTa ku..
kaRna aKu maLu sLaLu meNgeLuarkan aiR maTa ku....^^