BEBERAPA PENGERTIAN
Kata drama berasal dari bahasa Yunani, Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.
ARTI DRAMA
Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axcting), dan ketegangan pada para pendengar.
Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience)
Adapun istilah lain drama berasal dari kata drame, sebuah kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat, sebuah drama adalah lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting – meskipun mungkin berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia – tapi tidak bertujuan mengagungkan tragedi. Bagaimanapun juga, dalam jagat modern, istilah drama sering diperluas sehingga mencakup semua lakon serius, termasuk didalamnya tragedi dan lakon absurd.
Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masing-masing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi, dan merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog; mungkin ada semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu disebut hauptext atau teks utama; petunjuk pementasannya disebut nebentext atau tek sampingan.
Cotoh;
Chaterina ( bergegas masuk, membawa berita bagus ); Raina ! ( ia mengucapkan Raina, dengan tekanan pada i ) Raina ! ( ia menunjuk ketempat tidur, berharap menemukan Raina disitu ) Mengapa, di mana….! ( Raina menoleh kedalam ruangan ).
Fase-fase dalam kurung diatas adalah petunjuk permainan untuk sutradara dan pemain. Ini memandu para aktor dan sutradara maupun tetang penataan perlengkapan panggung. George Bernard Shaw ( 1856 – 1950 ), pelopor realisme dalam sejarah drama Inggris, memberi petunjuk secara panjang lebar pada nebentext-nya yang ditemukan dalam kebanyakan naskahnya karena ia tidak ingin interprestasi lakon-lakonnya menyeleweng dari apa yang sebenarnya ia kehendaki.
Novel jauh berbeda karena bagian narasinya dikombinasikan dengan dialog.
Kalau tidak salah waktu itu ia berumur delapan tahun, atau sembilan ? ia telah diajak ayahnya mengunjungi Chikako, dan mereka menemukan wanita itu diruang makan pagi. Kimononya terbuka. Wanita itu sedang memotongi rambut pada tanda lahirnya dengan gunting kecil. Tanda lahir itu menutupi separuh payudara kirinya dan turun sampai ke lekuk diantara payudaranya, selebar telapak tangan manusia. Tampaknya rambut tumbuh terus pada tanda lahir berwarna hitam kemerahan itu dan Cikako sedang mengguntinginya.
“ Kau ajak anak itu kemari?”
Tidak adanya narasi dalam drama bisa digantikan oleh akting para pemain yang, dengan menghubunkan diri mereka sendiri dengan perlengkapan, perlampuan dan iringan musik, menciptakan suasan dan menghidupkan panggung itu menjadi dunia yang amat nyata. Disamping itu, penjelasan tentang tokoh disampaikan melalui dialog antara tokoh yang membicarakan tokoh lain. Pada puisi, daya ekpresi dan irama mentepati posisi yang dominan. Oleh karena itu, puisi tidak bercerita. Jika balada bertumpu pada narasi, sebab sebenarnya balada adalah kisah, atau cerita yang dinyanyikan. Contohnya, mahabarata dan ramayana dalam bentuk tembang. Puisi yang dibaca dengan baik menjadi dramatik, seperti yang dilakukan Rendra, aktor baik. Maka “Tidak tidak diragukan lagi drama kadang dianggap diambil dari kata dramen yang berarti sesuatu untuk dimainkan.”Mungkin drama memperoleh hampir semua efektivitasnya dari kemampuannya untuk mengatur dan menjelaskan pengalaman manusia. Oleh karenanya, drama, seperti halnya karya sastra pada umumnya, dapat dianggap sebagai interprestasi penulis lakon tentang hidup. Unsur dasar drama-perasaan,hasrat, konflik dan rekonsilasi merupakan unsur utama pengalaman manusia.
Dalam kehidupan nyata, semua pengalaman emosional tersebut merupakan kumpulan berbagai kesan yang saling ada hubungannya. Bagaimanapun juga, dalam drama, penulis lakon mampu mengorganisir semua pengalaman ini ke dalam satu pola yang bisa dipahami. Penonton melihat materi kehidupan nyata yang disajikan dalam bentuk yang padat makna dengan menghapus hal-hal yang tidak penting dan memberi tekanan kepada hal-hal yang penting.
Penulis lakon menulis drama untuk dipentaskan, ia menulis drama itu dengan membayangkan action dan ucapan para aktor diatas panggung. Jadi ucapan dan action yang terwujud dalam dialog itu adalah bagian paling penting, yang tanpa itu drama bukan benar-benar sebuah lakon. Karena itu, sebuah drama mewujudkan action, emosi, pemikiran, karakterisasi, yang perlu digali dari dialog-dialog itu. Adalah satu keharusan bagi seorang sutradra untuk menganalisis drama sebelum memanggugkan drama itu.
Disamping drama, juga ada istilah teater, atau dalam bahasa inggrisnya theatre, kata teater dalam bahasa indonesia rancu karena tidak menunjukkan perbedaan antara istilah dalam bahasa Inggris; theatre dan the theatre. Dalam bahasa indonesia, teater mengacu pada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Tapi dalam bahasa Inggris, theatre dan the theatre amat berbeda. Kalau kita menonton tari orang primitif dibioskop dan mempelajari rite dan ritual, kita melihat theatre dihidupkan tapi kita tidak melihat the theatre. Kita tidak melihat satu gedung kesenian dan semua yang jadi bermakna dalam istilah lakon maupun pemain. Dalam jagat pikiran Indonesia, istilah teater terkadang cukup membingungkan. Misalnya saja, di Sala, ada nama URAVATRIA Theatre, yang ternyata adalah sebuah gedung bioskop dan bukan gedung teater.
The theatre berasal dari kata theatron, sebuah kata Yunani yang mengacu pada sebuah tempat dimana aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. The theatre juga menunjukan kepada pertunjukan yang lebih spesifik, misalnya teater Yunani, teater Amerika, Jepang dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia kita punya istilah teater tradisional dan teater masa kini atau teater kontenporer. Karena tidak benar-benar mengacu kepada sebuah tempat, kata teater menggambarkan sebuah lakon dengan atau tanpa naskah.
Dialog dalam teater tradisional diciptakan sendiri secara improvisasi oleh para aktor sesuai dengan plot dan karakterisasi yang mereka mainkan.
Teater tradisi berasal dari masyarakat pedesaan dengan solidaritas sebagai tulang punggung dari rasa memiliki. Ini juga mencerminkan jagat audio yang didalamnya penulisan dan penalaran merupakan kegiatan yang mewah. Tidak heran jika teater tradisional juga disebut the solidarity making theatre. Jauh berbeda dari itu, teater masa kini berasal dari jagat analisis yang tulang punggungnya adalah peradaban Yunani Kuno. Sebagai ganti mengandung kekuatan solidarity making teater kontenpoler menawarkan alternatif kepada penonton untuk bebas memilih, menyukai mereka yang telah berakting di panggung, atau pertempuran ide yang didalamnya sifat baik dan sifat jahat saling berjalin di dalam seorang pribadi. “ hidup adalah abu dan debu “, kata George Bernard Shaw. Lains sekali dengan yang terjadi dalam teater masa kini. Dalam teater tradisional, yang jahat harus dikalahkan oleh yang baik, kalau tidak, dihalang bisa dilempari batu oleh penonton. Sebagai contoh, Bima memang seharusnya menang dalam pertempuran melawan Suyudana dalam perang besar Bratayudha.
Dalam teater masa kini, yang jahat mungkin saja jadi pemenang seperti ditunjukkan dalam lakon Shakespeare, Romeo and Juliet. Pasangan kekasih itu mati secara tragis sementara para orang tua kedua kekasih itu tetap hidup dengan sehat walafiat. Bolehkan dikatan bahwa Romeo dan Juliet kalah ? tak seorangpun bisa menyebutkan siapa yang menjadi pemenangnya. Menonton pentas teater masa kini, memerlukan pemikiran yang mau mempertanyakan, kalau tidak lakon itu tidak akan bisa dinikmati.
SEJARAH DRAMA
Kebanyakan dari kita mengira bahwa drama berasal dari Yunani Kuno. Namun demikian, sebuah buku yang berjudul A History of the theatre menunjukan pada kita bahwa pemujaan pada Dionisus, yang kelak diubah kedalam festival drama di Yunani, berasal dari Mesir Kuno. Tek Piramid yang bertanggal 4000SM. Adalah naskah Abydos Passion Play yang terkenal. Tentu saja para pakar masih meragukan apakah teks itu drama atau bukan sebelum Gaston Maspero menunjukan bahwa dalam teks tersebut ada petunjuk action dan indikasi berbagai tokohnya.
Ada tiga macam teaori yang mempersoalkan asal mula drama. Menurut Brockett, drama mungkin telah berkembang dari upacara relijius primitif yang dipentaskan untuk minta pertolonga dari Dewa. Upacara ini mengandung banyak benih drama. Para pendeta sering memerankan mahluk superaalami atau binatang; dan kadang – kadang meniru action berburu, misalnya. Kisah-kisah berkembang sekitar beberapa ritus dan tetap hidup bahkan setelah upacara itu sendiri sudah tidak diadakan lagi. Kelak mite-mite itu merupakan dasar dari banyak drama.
Teori kedua memberi kesan bahwa himne pujian dinyanyikan bersama didepan makam seorang pahlawan. Pembicara memisahkan diri dari koor dan memperagakan perbuatan-perbuatan dalam kehidupan almarhum pahlawan itu. Bagian yang diperagakan makin lama makin rumit dan koor tidak dipakai lagi. Seorang kritisi memberi kesan bahwa sementara koor makinlama makin kurang penting, muncul pembicara lain. Dialog mulai terjadi ketika ada dua pembicara diatas panggung.
Teori ketiga memberi kesan bahwa drama tumbuh dari kecintaan manusia untuk bercerita. Kisah – kisah yang diceritakan disekeliling api perkemahan menciptakan kembali kisah – kisah perburuan atau peperangan, atau perbuatan gagah seorang pahlawan yang telah gugur. Ketiga teaori itu merupakan cikal-bakal drama. Meskipun tak seorang pun merasa pasti mana yang terbaik, harus diingat bahwa ketiganya membicarakan tentang action. Konon, action adalah intisari dari seni pertunjukan.
STRUKTUR DRAMA
Seorang Aristoteles, filsuf Yunani yang hidup sekitar 300 S.M. telah menulis Poetics. Untuk mengenali plot, karakter, pikiran, diksi, musik dan spektakel dari tragedi. Kelak identifikasi itu dianggap sebagai falsafah dasar dari strukturalisme yang oleh T.S. Eliot disebut the Formalistick Approach.
Plot adalah istilah yang berarti ringkasan kisah sebuah lakon. Plot berbeda dari cerita karena caranya menyajikan hubungan urutan cerita dan peristiwa. Dengan sendirinya plot adalah urutan peristiwa yang berhubungan secara kausalitas.
Abil contoh, misalnya Romeo bunuh diri, karena mengira kalau Juliet sudah mati. Kata ‘ karena ‘ merupakan kata sambung untuk menghubungkan kedua peristiwa itu, dengan menjelaskan bahwa yang pertama disebabkan oleh peristiwa kedua. Lain dengan cerita; cerita memerlukan kata dan atau lalu/kemudian untuk menghubungkan dua peristiwa.
Jadi dalam cerita; Romeo bunuh diri dan kemudian Juliet melakukan hal yang sama. Dengan kata lain plot menunjukan peristiwa-peristiwa secara kausatif, sedangkan cerita secara kronologis. Oleh karena itu kata ‘mengapa’ adalah kata ganti penanya yang paling cocok untuk mengamati paradigma plot dalam drama maupun novel.
Pada awal plot kita ada eksposisi. Ini memberi penonton informasi yang diperlukan tentang peristiwa sebelumnya, situasi sekarang atau tokoh-tokohnya. Dalam kebanyakan lakon, sudah sejak awal pengarang memberi tekanan kepada satu pertanyaan atau konplik penting. Pada awal kisah Romeo and Juliet, Shakespeare telah menyajikan pertengkaran antara Sampson, Gregory lawan Baltazar dan Abraham, satu penjelasan yang memberi ‘Leitmotive’ kepada tema, konplik dan rekonsiliasinya.
Gregory : Anda berkelahi, ya ?
Abraham : Berkelahi? Ah, ngak, nggak!
Sampson : Tapi kalau ya, saya memihak anda, saya mengabdi sebaik anda
Abraham : ah, tak akan lebih baik.
Sampson : Baiklah
Gregory : (kesamping kepada Sampson, melihat Tybalt keluar panggung)
Katakanlah lebih baik. Itu salah satu dari orang majikanku datang.
Sampson : Ya, lebih baik.
Abraham : Bohong!
Sampson : Cabut pedangmu, kalau kamu lelaki. Gregory, ingat hantamanmu.
( mereka berkelahi ).
Dialog diatas menciptakan suasana babak itu dan suatu pelukisan singkat tapi lengkap tenatang konplik antara keluarga Montague versus keluarga Capulet yang akan menimbulkan bencana itu.
Terkadang juga ada eksposisi tentang tokoh-tokoh. Sebuah film berjudul Jango versus Santana dapat dijadikan contoh. Film itu dimulai dengan sebuah pemandangan. Sebidang tanah tandus dengan pohon-pohon kaktus tumbuh disana-sini. Sementara fokus kamera bergerak kearah kanan, seorang lelaki dengan baju kotor dan basah kuyup tampak berlutut didepan sebuah makam. Lelaki itu berdiri dan kamera mengambil gambarnya dalam teknik medium. Posisi enface memberikan gambaran jelas tokot itu. Ia tak mengalami kemalangan, tapi ia menghadapinya dengan tegar. Pelukisan singkat tapi hampir lengkap dari tokoh tersebut memberi titik awal yang jelas untuk memulai film itu.
Dalam eksposisi itu, unsur-unsur konpliknya statis. Melalui satu insiden yang merangsang maka action mulai bergerak. Disini konflik dramatik besar mulai jelas menyatukan kejadian – kejadian dalam lakon itu. Insiden yang merangsang dalam Romeo and Juliet tampak ketika Tybalt mengenali Romeo dan ingin menantang berkelahi. Presiden dari stimulasi itu terjadi ketika inang memberi tahu Juliet bahwa Romeo adalah anggota keluarga Montague. Unsur statis dalam eksposisi itu mulai bergerak dan konflik sehari-hari antara Sampson versus Abraham makin lama makin menjadi makin serius. ( Babak I ) timbul serentetan konflik ketika Romeo membocorkan rahasianya kepada teman-temannya, memanjat tembok kebun keluarga Capulet, dan menunggu Juliet muncul dijendelanya waktu gadis itu muncul, keduanya saling mengungkapkan cinta dan memutuskan untuk kawin lari ( Babak II ). Makin lama lakon itu makin tegang sampai pendeta sampai pendeta Laurence berharap, setelah menyeleggarakan upacara pernikahan, pertikaian antara keluarga itu akan berakhir dan Romeo berpendapat begitu. Kisah cinta sederhana antara pemuda dan pemudi itu sekarang berkembang menjadi idealisme yang melibatkan masalah besar yang dihadapi kedua orang tua itu. Tidak diragukan bahwa konflikasi tersebut menuju suatu krisi, satu titik balik ketika informasi yang sebelumnya dirahasiakan sedikit sebagian terungkap dan masalah dramatik itu bisa dijawab.
Meskipun Juliet sudah menikah dengan Romeo, ia tidak berterus terang pada ayahnya. Oleh karenanya itu, Capulet tetap menjalankan rencananya untuk menikahkan Juliet dengan Paris. Karena pernikahan akan berlangsung pada hari kamis, pendeta Laurence mengusulkan agar pada hari rabu Juliet harus menelan ramuan yang akan membuatnya mati suri; sementara Laurence akan mengirimkan pesan pada Romeo untuk menyelamatkan Juliet dari makam keluarga Capulet, karena ia merasa yakin gadis itu akan dimakamkan disana. Capulet, karena ditentang oleh putrinya, memutuskan untuk mengajukan pernikahan itu sehari. Rencana itu membuat Juliet harus segera mereguk racun tadi. Agar rencananya tidak terhalang, ia menyuruh inang keluar dan tanpa pikir panjang langsung mereguk racun tadi. Paginya inang menemukan Juliet sudah tak bernyawa. Laurence dan Paris tiba; tapi upacara pernikahan harus diubah menjadi upacara pemakaman ( Babak IV ).
Bagian terakhir dari lakon itu, sering disebut resolusi, berkembang dari krisis sampai tirai ditutup untuk terakhir kalinya. Ini terkadang mengumpulkan berbagai alur action dan membawa situasinya ke suatu keseimbangan baru, dengan demikian hasilnya bisa jadi memuaskan, tapi mungkin juga mengecewakan harapan penonton.
Karena tidak tahu bahwa Jliet hanya kelihatannya mati, Balthazar tiba di Mantua sebelum pendeta tiba dan memberi tahukan tentang kematian Juliet. Mendengar itu Romeo membeli racun untuk bunuh diri dimakam Juliet. Setelah membunuh Paris, Romeo mereguk racun itu. Ketika terjaga, Juliet menemukan Romeo yang sudah mati dan bunuh diri. Pertikaian kedua keluarga itu berakhir di atas dua kekasih yang sudah mati ( Babak V )
KARAKTER
Disamping menjadi materi utama untuk menciptakan plot, karakter juga merupakan sumber action dan percakapan. Karena itu, karakter harus dibentuk agar cocok dengan kebutuhan plot, dan semua bagian dari setiap karakterisasi harus pas satu sama lain. Jika karakternya sama, tidak akan ada lakon. Minat akan muncul kalau karakter-karakter itu saling bertentangan. Mereka sedapat mungkin harus tidak sama.
UNSUR-UNSUR YANG TERKANDUNG DALAM NASKAH DRAMA
Unsur-unsur ini bisa kita lihat dari dua sisi, antara lain dari sisi –
A. fisik :
1. Judul 5. Adegan
2. Prolog 6. Babak
3. Dialog 7. Epilog
4. Autodirection 8. Dramatik Person
B. PSIKIS :
1. Tema ( social, politik,psikologi, moral, religious, cinta, dll )
2. Plot / alur cerita :
Ø Jenis Plot : – Linier, sirkuler, episodic, consentrik, statis, spiral
Ø Penghubung peristiwa dalam plot : rapat, longgar dan lepas
Ø Anatomi Plot :
Saspence : keteganagn yang terjadi diawal cerita yang membuat penasaran bagi pembaca atau penonton.
Gestus : Ucapan yang keluar dari seorang tokoh yang beritikad mencari solusi tentang sesuatu persoalan.
Foreshadowing : Bayang-bayang peristiwa atau dialog yang mendahului sebelum peristiwa yang sebenarnya terjadi.
Dramatik Ironi : Sindiran yang terjadi diawal cerita yang akhirnya benar-benar terjadi dikemudian.
Flasback : pengulangan kejadian masa silam yang digambarkan pada masa itu, dalam upaya mempertegas cerita dari kejadian suatu peristiwa ( menggambarkan kronlogis peristiwa secara detail )
Surprese : Peristiwa yang tidak diduga dan mengejutkan, akan tetapi masih dapat diterima karena masih dalam kerangka peristiwa.
3. Strukturdramatik :
Eksposisi : Isinya pemaparan masalah utama atau konflik utama yang berkaitan dengan posisi diametral antara protagonis dan antagonis. Hasil akhir : Antagonis berhasil menghimpun kekuatan yang lebih dominan.
Raising Action : Isinya menggambarkan pertentangan kepentingan antar tokoh. Hasil akhir : Protagonis tidak berhasil melemahkan Antagonis. Antagonis mengancam kedudukan Protagonis. Krisis diawali.
Complication : Isinya perumitan pertentangan dengan hadirnya konflik sekunder. Pertentangan meruncing dan meluas, melibatkan sekutu kedua kekuatan yang berseteru. Hasil akhir : Antagonis dan sekutunya memenangkan pertentangan. Kubu protagonis tersudut.
Klimaks : Isinya jatuhnya korban dari kubu Protagonis, juga korban dari kubu Antagonis. Hasil akhir : Peristiwa-peristiwa tragis dan menimbulkan dampak besar bagi perimbangan kekuatan antar kubu.
Resolusi : Isinya hadirnya tokoh penyelamat, bisa muncul dari kubu protagonis atau tokoh baru yang berfungsi sebagai penyatu kekuatan kekuatan konflik, sehingga situasi yang kosmotik dapat tercipta kembali. Pada tahap ini, pesan moral disampaikan, yang biasanya berupa solusi moral yang berkaitan dengan tema atau konflik yang sudah diusung.
4. Bentuk Lakon :
a. Tragedi : Salah satu bentuk lakon dalam mana tokoh tragis yang oftimistis hancur dalam perjuangan karena mempunyai cacat tragis.
b. Komedi : Salah satu bentuk lakon dalam mana terdapat banyak hal atau peristiwa tentag tokoh-tokoh tertentu yang menimbulkan kelucuan, kegelian dan atau kemuakan moral
c. Tragedikomedi : Salah satu bentuk lakon dengan tokoh utama atau tokoh-tokoh yang lainnya, diperistiwakan, disuasanakan, dikarakterisasikan pengarang secara lucu dan komis, tapi sekaligus kadang atau seringkali mengerikan, menyeramkan atau menimbulkan rasa iba prihatin atau simpati
d. Melodrama : salah satu bentuk lakon dalam mana tokoh protagonis secara total, baik, antagonis secara total, jahat, sementara aksi-aksi dramatis dan pengkarakterisasian dibuat untuk menghasilkan efek yang gagal atau hebat
5. Aliran :
a. Konvensional
b. Non Konvensional
TEHNIK MENGOLAH BAHAN CERITA
METODE ; Fact and Fictionalization
Memadukan kenyataan ( Fact ) dan rekaan ( Fiction ) ; buatlah kemungkinan – kemungkinan hubungan baru, dari orang – orang yang pernah anda wawancarai atau yang pernah anda ketahui, seperti daftar dibawah ini;
Ø Pedagang kecil
Ø Salesmen / girl
Ø Buruh pabrik
Ø Loper koran rumah
Ø Pengamen jalanan
Ø Tukang reparasi keliling
Ø Pembantu rumah tangga
Ø Satpam rumah pribadi
Ø Tukang pijat keliling
Ø Pedagang batu akik
Ø Tukang potong rambut DPR
Ø Tukang sayur keliling
Ø Pedagang asongan
Contoh hubungan baru ; Membuat plot atau Alur cerita
Pembatu rumah tangga punya pacar tukang pijat keliling. Tapi, satpam rumah pribadi naksir berat pada pembantu rumah tangga. Satpam minta bantuan pedagang batu akik untuk membuat batu pelet yang ampuh. Oleh pembantu rumah tangga batu pelet malah diberikan pada tukang sayur keliling.jadi jatuh hati pada satpam. Satpam menolak, karena tukang sayur keliling sudah bersuami, yaitu tukang pijat keliling. Seorang loper koran menyebarkan desas desus. Perselingkuhan tukang pijat keliling dengan pemabantu rumah tangga diketahui oleh warga lain………
Tema, yang bisa diangkat menjadi fokus cerita : ( pilih salah satu )
Ø PERSAINGAN
Ø PERCINTAAN
Ø PERJUANGAN HIDUP
Ø PERSEKONGKOLAN
Ø KEADILAN, DLL
Cara menerapkan metode Fact and Fictionalization
Ø jalan cerita dan nama – nama tokoh diganti
Ø Karakter dan penampilan tokoh disesuaikan dengan fakta dalam kenyataan
Ø Bahasa disesuaikan dengan latar belakang tokoh masing – masing
Ø Pilih gaya penuturan yang sesuai dengan tema cerita dan potensi pemain
DAFTAR KATA ACAK
Pemuda Miskin Saleh Ayah Haus Karir Ibu Royal Pencemburu
Ibu Baik Hati Janda Kenes Janda Alim
Banci Galak Preman Budiman Dokter Komersil
Kopral Madona Kampung Maling Lihai
Gadis Jujur Nenek Gatal Guru Sederhana
Anak Pemberani Suami Hidung Belang Rentenir Serakah
Polisi Penyabar RT pembual Nenek Roker
Mahasiswa Pecandu Narkoba Pengusaha Nakal
Satpam Erotis Pensiunan Paranormal Gadungan
Haji Rendah Hati Anak Band Cuek Pembantu Kocak
Jendral Darah Tinggi Banci Galak Polisi Cabul
Merangkai kata acak, menjadikan sebuah alur cerita, sebagai llangkah awal untuk mencipta dialog.
MAIN CHARACTER in MuSICAL
Ø Protagonis – Tokoh Utama (1)
Ø Antagonis – Lawan Tokoh Utama (1)
Ø Deutragonis – Pembela Protagonis (1)
Ø Foil – Sekutu Antagonis (1)
Ø Choral – Massa, Crowd, kelompok (1)
Ø Narator – Pengisah Peristiwa (1)
ELEMENS OF MUSICAL SCRIPT
Ø Narator – Opening, Middle, Closing
Ø Dialogue – Core Lines of Main Character
Ø Song – Lirical Song, Choral Song, Finale
Ø Choreo – Intro, Act-Choreo, Bridging, Finale
Ø Music – Illustrasion, Thematic, Effect
Ø SUPORTIVE ELEMENTS
Costumes, Make-up, Hand-props, Becgaraund Scenery, Special Effect
Ø PROTAGONIS – MALING ( JATUH CINTA )
Ø ANTAGONIS – JANDA ( KENES )
Ø DEUTRAGONIS – NENEK ( ROKER )
Ø FOIL JENDRAL ( DARAH TINGGI )
Ø CHORAL – SATPAM ( EROTIS ), BANCI ( GALAK )
Ø SESUAIKAN SCRIPT DENGAN GAYA ; DRAMA, ROMANCE, COMEDI, FABLE
Unsur pendukung sesuai dengan kebutuhan / Definition ;
Ø Opening Naration ; pembuka kisah diawal pertunjukan
Ø Middle Naration ; Narasi jembatan antara adegan/act
Ø Closing Naration ; penutup kisah diakhir pertunjukan
Ø Core Lines Dialogue; Ucapan inti tokoh-tokoh penting
Ø Lirical Song; Nyanyian solo oleh tokoh penting
Ø Choral Song; Nyanyian koor oleh kelompok choral
Ø Finale Song; Nyanyian penutup oleh seluruh pemain
Ø Intro choreo; koreo kelompok diawal pertunjukan
Ø Act Choreo; choreo tunggal oleh tokoh-tokoh penting, saat menyanyikan lyrical song.
Ø Bridging Choreo; Koreo kelompok penghubung antara adegan
Ø Finale Choreo; koreo kelompok diakhir pertunjukan, saat menyanyikan finale song
Ø Ilustrasion Music; musick penguat suasana untuk adegan penting atau khusu
Ø Thematick Music; musik tema sesuai gaya pertunjukan. Dipakai diakhir pertunjukan, pada finale song
Ø Effect music; Efek audio untuk dramatisasi suasana.
Ø Costumes; busana khusus untuk identitas tokoh
Ø Make-up; efek perupaan untuk karakterisasi tokoh
Ø Hand-props; peralatan khusu yang dibawa tokoh
Ø Background scenery; gambaran lokasi peristiwa
Ø Spesial Effect; Efek audio-visual untuk peristiwa penting.
Contoh Treatmen
STYLE : COMEDI
TITEL : SAPUTANGAN BUAT MARKISA
THEMA ; PERSAINGAN KELAS SOSIAL
TREAMENT:
Darga, maling lihai, tampan tapi tak terawat. Jatuh cinta pada Markisa, janda kenes. Jalan Darga terhalang, sebab Markisa sudah dipinang Suroto Broto, pansiunan jendral, pengidap darah tinggi.
Darga tak pandai menyatakan perasaan cinta. Dia minta bantuan pada Nita Thalidut, nenek pengamen penyanyi rock, untuk membuat lagu rayuan. Sementara itu, markisa sudah diboyong oleh Suroto Broto ke sebuah villa. Darga dan Nita Thalidut mendatangi villa Suroto, untuk melamar Markisa.
Tapi, saat lagu rayuan didendangkan, yang terbakar asmaraya justru satpam erotis penjaga villa, bernama Darma. Darga dikerjar Darma, dikepung oleh kelompok satpam, kolega Darma. Tapi Darga menolak. Terjadi perkelahian. Darga terluka.
Melihat darga terluka, Markisa melunak hatinya, bersimpati pada Darga. Tapi Suroto Broto naik pitam. Suroto mengancam menembak Darga. Pada saat kritis itu, muncul Isye Rai, banci galak, simpanan Suroto Broto. Muncul pula rombongan maling, kelompok binaan Darga.
Ise Rai merabrak Suroto Broto, karena dianggap buaya. Suroto kecut dan malu, Hendak kabur, tapi dikepung oleh rombongan maling. Kelompok satpam melindungi Suroto. Terjadi perkelahian massal antara rombongan maling dengan kelompok satpam. Rombongan maling menang.
Suroto Broto tak berkutik, pergi digiring Isye Rai. Markisa akhirnya menerima Cinta Darga. Cinta Markisa dan Darga dirayakan bersama oleh Nita Thalidut, Darma dan kelompok satpam, serta oleh rombongan maling. Happy ending sesaat.
Suara sirene terdengar. Rombongan polisi datang mengepung untuk menangkap darga dan komplotannya. Terdengar perintah polisi dari sebuah toa, perintah untuk menyerah. Troubled Ending.
Menanggapi unsur pementasan naskah drama
Pementasan drama merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan. Dalam pentas, aktor bermain peran dan menunjukkan kebolehannya. Aktor memerankan tokoh cerita dengan karakter tertentu. Setiap tokoh cerita mempunyai peranan dan watak yang berbeda. Dalam memberikan apresiasi terhadap pementasan drama, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Aktor
Seorang aktor dituntut untuk mampu memerankan tokoh cerita. Keahlian aktor dapat menghadirkan sosok tokoh yang diperankan seperti nyata, baik tingkah laku, dialog, maupun jiwanya. Selain bermain secara individu, aktor juga diharuskan dapat bermain secara kelompok. Artinya, di atas panggung seorang pemain tidak bermain sendiri, ada tokoh cerita
lain yang harus bekerja sama dalam menghadirkan permainan yang baik. Kekompakan antarpemain sangat menentukan keberhasilan sebuah pementasan.
2. Latar
Dalam pementasan drama, yang dimaksud latar atau setting adalah tempat yang dipakai untuk pementasan. Latar dalam pementasan drama juga berfungsi untuk memberi gambaran tentang cerita, yakni tempat, waktu, dan suasana sebuah peristiwa dalam cerita. Selain memberikan gambaran tempat, latar juga mempunyai fungsi sebagai arena permainan,
waktu, suasana, dan kesan artistik. Sebaiknya, pembuatan panggung disajikan secara proporsional.
3. Kostum
Kostum atau busana pentas merupakan pakaian penunjang karakter pemain dalam menghadirkan sosok tokoh cerita. Selain itu, kostum juga dapat menggambarkan sebuah kurun waktu kejadian drama dan artistik pementasan.
4. Tata rias (make up)
Tata rias adalah riasan wajah pemain yang bertujuan untuk membantu pemain menghadirkan karakter tokoh cerita.
5. Musik
Musik berfungsi untuk membangun suasana tertentu, seperti tuntutan peristiwa drama. Musik yang kurang baik dan kurang tepat dapat merusak suasana drama.
6. Menanggapi Hasil Pementasan
Apa yang harus ditanggapi dari hasil pementasan? Hal-hal yang ditanggapi penonton dari sebuah pementasan, antara lain akting, aktor, penokohan, kostum, tata rias (make-up), musik, latar, dan penataan panggung. Pertanyaan berikut, dapat digunakan sebagai penolong untuk membuat tanggapan atas pementasan drama.
a. Bagaimana permainan aktornya?
b. Bagaimana pemeranan tokohnya?
c. Bagaimana kostum dan tata riasnya?
d. Bagaimana ilustrasi musiknya?
e. Bagaimana penataan panggungnya?
DEFINISI DRAMA
Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.
Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1. Drama Baru / Drama Modern
Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2. Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.
Macam-Macam Drama Berdasarkan Isi Kandungan Cerita :
1. Drama Komedi
Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
2. Drama Tragedi
Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
3. Drama Tragedi Komedi
Drama tragedi-komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
4. Opera
Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.
5. Lelucon / Dagelan
Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.
6. Operet / Operette
Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
7. Pantomim
Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
8. Tablau
Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
9. Passie
Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.
10. Wayang
Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.
Seperti halnva prosa dan puisi, cerita drama juga dibangun atas unsure ekstrinsik dan intrinsik. Di dalam cerita drama, juga terdapat tema, amanat, karakteristik tokoh, alur, Iatar cerita, dan dialog. Satu unsur yang tidak ditemukan adalah sudut pandang cerita (point of view), karena drama
merupakan seni bertutur langsung. Namun, terkait sifat drama sebagai seni lisan itu, ada perbedaan cara menganalisis unsur intrinsik drama dengan novel atau cerpen. Dalam novel, latar dilukiskan secara verbal oleh pengarang; sedangkan dalam drama, Iatar divisualisasikan rnelalui dekorasi panggung dan diperkuat dengan efek-efek tertentu. Dalarn prosa, karakterisasi sebagian dilakukan secara analitik oleh pengarang; sedangkan dalam drama, karakterisasi sepenuhnya dilakukan
secara dramatik melalui akting pemain, kostum, muke up, dan visualisasi
latar dalam dekorasi panggung. Dalam prosa, kejelasan unsur-unsur intrinsic ditentukan oleh kemampuan pengarang dalam menarasikan dan
mendeskripsikan ceritanya; dalam drama tergantung kemampuan para
pemain dan kru pendukungnya (penata panggung, penata rias wajah, piñata busana, penata cahaya dan suara) dalam memahami, menerjemahkan, dan memvisualisasikan ide cerita pengarang seperti yang tertuang dalam skenario/naskah.
Aktivitas Diri
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mengungkap unsur-unsur intrinsik cerita drama "Badai Sepanjang Malam".
1. Apakah tema cerita drama tersebut?
2. Siapakah nama-nama tokoh dalam drama tersebut?
3. Bagaimanakah karakter atau watak dari tokoh-tokoh tersebut? Sebutkan watak-watak yang dominan dan berilah bukti yang mendukung. Bukti dapat berupa ucapan atau tindak tanduk tokoh.
4. Deskripsikan dimensi sosial dan fisik dari masing-masing tokoh tersebut.
5. Bagaimanakah latar waktu dan tempat dalam cerita? Deskripsikan juga latar suasana batiniah, suasana sosial budaya, dan suasana alamiah.
6. Sebutkan amanat atau pesan moral yang hendak disampaikan melalui cerita drama di atas
TEATER
MEDITASI dan KONSENTRASI
MEDITASI
Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
Tujuan Meditasi :
1. Mengosongkan pikiran.
Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.
2. Meditasi sebagai jembatan.
Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.
Cara meditasi :
Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
Atur pernafasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.
Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.
Catatan :
Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.
KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.
Cara konsentrasi :
Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.
Catatan :
Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.
VOKAL dan PERNAFASAN
PERNAFASAN
Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.
Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan :
Ø Pernafasan dada
Pada pernafasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang‑orang teater pernafasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk Udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.
Ø Pernafasan perut
Dinamakan pernafasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernafasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
Ø Pernafasan lengkap
Pada pernafasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernafasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.
Ø Pernafasan diafragma
Pernafasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir‑akhir ini, banyak orang‑orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.
Latihan‑latihan pemapasan :
· Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
· Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
· Cara berikutnya adalah menarik napas dalam‑dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara‑cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vocal.
Catatan : Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.
VOCAL
Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vocal yang baik pula. "Baik” di sini diartikan sebagai :
· Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).
· Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),
· Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.
· Tidak monoton.
Untuk mempunyai vocal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan‑latihan vocal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vocal, antara lain :
· Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…” dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.
· Tariklah nafas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…” (suara keluar lewat hidung).
· Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
· Hirup udara banyak‑banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa…….” sampai batas nafas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.
· Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan nafas)
· Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.
· Keluarkan suara vokal “a‑i‑u‑e‑o", “ai‑ao‑au‑ae‑", "oa‑oi‑oe‑ou", “iao‑iau‑iae‑aie‑aio‑aiu‑oui‑oua‑uei‑uia‑......” dan sebagainya.
· Berteriaklah sekuat‑kuatnya sampai ke tingkat histeris.
· Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung‑gulung, berlari, berputar‑putar dan berbagai variasi lainnnya.
Catatan :
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan‑latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir‑lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat‑alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat‑alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.
Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara‑suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.
ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :
Ø Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Ø Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog.
Misalnya:
o Kehormatan menjadi kormatan
o Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Ø Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.
Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan
· Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.
· Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb
· Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.
GETIKULASI
Getikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, getikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda.
Getikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang‑kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata "Pergi !!!!” dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?” , "Kenapa ?” atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.
Getikulasi harus dilakukan sebab kata‑kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda.
Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), “Pergi….” (mendapat tekanan).
INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :
Tekanan Dinamik (keras‑lemah)
Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan‑penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.
- SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)
- Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)
- Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)
Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah‑ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
Tekanan Tempo
Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑beda. Lambat atau cepat silih berganti.
WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki‑laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, getikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah‑rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dsb.
Selain mengenai dasar‑dasar vocal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar‑dasar vocal seperti di atas.
(Si Dul masuk tergopoh‑gopoh)
Dul : Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang kota, Pak.
Paiman : Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).
Paiman : Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.
Pak Gondo : (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !
(kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?
Dul : Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali sambil motret.
GERAK
OLAH TUBUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal.
Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot‑otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian‑bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.
Pelaksanaan olah tubuh :
Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yana kita punyai, tentang segala rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
- Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.
- Putar kepala pelan‑pelan dan rasakan lekukan‑lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali‑kali. Ingat, pelan‑pelan dan rasakan !
- Putar bahu ke arah depan berkali‑kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.
- Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.
- Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali‑kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama‑sama.
- Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.
- Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.
- Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari‑lari di tempat dan meloncat‑loncat.
Macam‑Macam Gerak :
Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam‑macam gerak Latihan‑latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.
Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, yaitu
1. Gerak teaterikal
Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.
2. Gerak non teaterikal
Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari‑hari.
Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam‑macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.
Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dsb.
Gerak Kasar
Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian. yaitu :
Business, adalah gerak‑gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya :
- sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak‑gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.
- sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.
Gestures, adalah gerak‑gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung‑gulung, melompat, dsb.
Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.
Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu.
Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak dasar”. Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
· Gerak dasar bawah : posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.
· Gerak dasar tengah : posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.
· Gerak dasar atas : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.
Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.
Latihan-latihan gerak yang lain :
Latihan cermin.
dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.
Latihan gerak dan tatap mata.
sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.
Latihan melenturkan tubuh.
seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.
Latihan gerak bersama.
suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.
Latihan gerak mengalir.
suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.
GERAK DAN VOCAL
Setelah kita berlatih tentang vocal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vocal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya.
Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vocal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vocal.
PENGGUNAAN PANCA INDERA DALAM TEATER
Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain :
Mata
Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.
Telinga
¨ Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
¨ Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bis, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.
Hidung
¨ Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
¨ Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.
Kulit
¨ Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.
¨ Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
Lidah
¨ Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dsb.
¨ Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.
KARAKTERISASI
Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.
Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.
Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya :
Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)
Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)
Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut :
Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)
Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.
Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.
OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.
ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dsb.
Cara-cara melatihnya antara lain :
Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.
Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.
Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.
Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.
IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.
Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.
Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :
Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.
Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.
Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.
Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.
EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernafasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.
PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.
Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :
Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.
Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.
Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.
BLOKING
Yang dimaksud dengan bloking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, bloking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak bloking. Yang dimaksud dengan bloking yang baik adalah bloking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.
Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
Utuh
Utuh berarti bloking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.
Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut bloking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip bloking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.
KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu bloking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri. Berikut ini adalah skema komposisi pentas.
PENONTON
Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan nomornya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar bloking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.
NASKAH
Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.
Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain / lakon dan plot atau rangka cerita.
Tema
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
Lakon
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
v Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani
usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
v Dimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan
status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
v Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan
temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
Plot
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
§ Pemaparan (eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
§ Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
§ Komplikasi awal atau konflik awal
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
§ Klimaks dan krisis
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
§ Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.
Cari Blog Ini
Senin, 03 Mei 2010
kata dan makna kata
Bahasa Indonesia SMA/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Standar
Kompetensi
- Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat
madya
Kompetensi
Dasar
- Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata,
ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja
Indikator
- Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
- Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim
dan antonim dalam teks bacaan
- Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa,
kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya
(diterima/ditolak) berdasarkan paradigma
atau analogi
- Mengidentifikasi kata, frasa, kalimat, atau bentuk
kata baru yang perlu dipersoalkan kebenarannya/
ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkankan kaidah
atau kelaziman
Pada kelas X, kita sudah belajar tentang kelas kata. Pada bab ini, kita akan
mempelajari kembali kelas kata dalam kaitannya dengan keterampilan
membaca. Selain itu, kita juga akan mempelajari kata berdasarkan
bentukan kata, makna kata, serta mengindentifikasi kata/frasa baru. Setelah
mempelajari bab ini, kita harus mampu mendaftarkan dan mengelompokkan
kata berdasarkan kelas kata dan makna kata. Kita juga harus mampu
mengindentifikasi penggunaan kata, frasa, ungkapan, dan kalimat yang baru
yang tidak benar atau tidak lazim sesuai kaidah bahasa Indonesia.
BAB 4
MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA,
BENTUK KATA UNGKAPAN, DAN KALIMAT
DALAM KONTEKS BEKERJA
62 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Wacana
Kebiasaan Lama Kurangi Sampah Plastik
Kebiasaan lama tak selalu jelek. Bahkan ada yang ramah lingkungan.
Sewaktu kecil, sampai awal tahun 1980-an, kita masih terbiasa melihat
nenek atau ibu-ibu tetangga ke pasar tradisional membawa tas sendiri
yang terbuat dari anyaman pandan atau tas kain. Sejalan merebaknya
pasar swalayan yang menyediakan tas belanja plastik sebagai layanan bagi
pelanggan sekaligus promosi, kebiasaan itu menghilang. Ritual belanja
memang jadi lebih praktis, namun menimbulkan masalah lain: gunungan
sampah!
Padahal, tahukah Anda, plastik itu terbuat dari minyak bumi yang
jumlahnya makin hari makin terbatas? Jadi “Bring your own bag.” Ini
kampanye dari toko pernik interior IKEA di Singapura. Sejak Hari Bumi
22 April 2007, mereka tak lagi menyediakan tas belanja plastik. Para
pelanggan diberi pilihan membawa tas belanja sendiri, beli tas belanja dari
belacu dengan rancangan cantik seharga Sin $ 1,2 (setara Rp 12.000), atau
membeli tas plastik seharga 5 atau 10 sen dolar Singapura, bergantung
pada ukurannya. Jadi, kampanye pengurangan penggunaan plastik bukan
hanya untuk mengurangi gunungan sampah, tapi juga menghemat BBM.
Di pertigaan Rawa Belong, Jakarta Barat, tiap sore hingga malam bisa
kita temui warung tenda “Bubur Ayam Lumayan Bang Tatang.” Bubur nasi
kental dengan tumpukan suwiran ayam ini laris manis. Tak kalah laris, cara
Bang Tatang menyiapkan bubur bagi pelanggannya yang antre sampai ke
luar tenda. One man show, ia menjejerkan 20 mangkuk kosong sekaligus,
dengan gerakan cepat, dalam tempo 5 menit, semuanya sudah terhidang di
hadapan pelanggan.
“Bawa tempat sendiri, saya tak menyediakan plastik, repot dan lama
melayaninya!” katanya dengan nada ketus tiap kali pelanggannya pesan
untuk dibawa pulang. Sombong! Begitulah komentar pembeli yang baru
pertama kali berkunjung. Tapi bila dipikir-pikir, “kesombongan” Bang
Tatang adalah perilaku baik yang ramah lingkungan.
Dulu, bila ingin membeli bakso, soto, atau es kelapa muda di pojok
jalan, banyak di antara kita yang membawa mangkuk sendiri. Sekarang,
pemandangan semacam itu nyaris tak pernah ada. Yang umum justru
banyak yang memanfaatkan kantong plastik. Idealnya, kita harus membawa
rantang susun sendiri bila membeli makanan untuk dibawa pulang dari
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 63
restoran. Tindakan ini untuk mengurangi sampah styrofoam dan plastik.
Bukankah sekarang, wadah makanan banyak yang dirancang cantik?
Dijamin tak bakal bikin malu.
Kampanye penggunaan tas bukan plastik sendiri sebenarnya sudah
cukup lama ada di Indonesia. Pusat perkulakan Makro, misalnya, saat
mulai beroperasi di Indonesia tak menyediakan tas belanja. Pelanggan
dipersilakan mengangkut belanjaan dalam kemasan karton aslinya,
sedangkan perusahaan tata rias The Body Shop sempat mengadakan
kampanye Reuse Reduce Recycle dengan memberikan potongan harga bagi
pelanggannya, yang mengisi ulang produk dengan membawa wadah lama.
Namun, kurangnya peminat membuat The Body Shop mengubah strategi.
Tak lagi menerima wadah lama, tapi mengganti bahan wadah dengan
materi yang lebih cepat terurai di alam.
Untuk mengurangi gunung sampah plastik dan menghemat BBM,
kembalilah pada kebiasaan lama, membawa wadah sendiri untuk jajanan
dan belanjaan kita.
(Sumber: Intisari, Juli 2007)
A. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
Untuk mendayagunakan bahasa secara maksimal, diperlukan kesadaran
akan pentingnya pengayaan kosakat. Kesadaran itulah yang memotivasi
kita untuk lebih rajin membaca. Membaca merupakan kegiatan berbahasa
yang secara aktif menyerap informasi atau pesan yang disampaikan melalui
media tulis, seperti buku, majalah, dan surat kabar. Aktivitas membaca
tidak saja dilakukan untuk menyerap informasi atau pesan yang diuraikan
di dalam bacaan, tetapi membaca dapat juga dilakukan dengan tujuan
menelaah unsur-unsur kebahasaan yang terkandung di dalamnya.
Dalam sebuah bacaan, terkandung banyak unsur bahasa yang berkaitan
dengan makna kata dan ruang lingkupnya. Juga penggunaan gaya bahasa
yang berhubungan dengan ungkapan dan bentuk-bentuk pemakaiannya.
Pada bab ini, kita akan membahas dan menelaah unsur-unsur kebahasaan
di dalam bacaan berkaitan dengan kata, bentuk kata, ungkapan, serta
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
Kata merupakan unsur yang sangat penting dalam membangun suatu
kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada kalimat. Setiap kata mempunyai
fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan kelas kata atau jenis
64 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
katanya. Di kelas X, kita sudah mempelajari kelas kata dan pada bab ini akan
dibahas kembali tentang kelas kata dan hubungannya dengan kalimat.
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) kata kerja (verba)
(2) kata sifat (adjektif )
(3) kata keterangan (adverbia)
(4) kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
(5) kata tugas
1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata
kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata dapat digolongkan ke
dalam kelas kata kerja apabila memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat.
Contoh:
pergi (Pergi dengan gembira.)
tidur (Tidur dengan nyenyak.)
jalan (Jalan dengan santai.)
(2) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah.
Contoh:
(akan) mandi
(sedang) tidur
(telah) pergi
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
(tidak) makan
(tidak) lihat
(tidak) pulang
(4) Berawalan me- dan ber-
Contoh:
melatih
melihat
merakit
berdiskusi
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 65
berpikir
berusaha
2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat ialah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau
keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata sifat
berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabila
memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata
sekali.
Contoh:
indah (sangat indah/indah sekali)
baik (sangat baik/baik sekali)
tinggi (sangat tinggi/tinggi sekali)
(2) Dapat diberi awalan se- dan ter-.
Contoh:
luas (seluas/terluas)
bodoh (sebodoh/terbodoh)
mudah (semudah/termudah)
buruk (seburuk/terburuk)
baik (sebaik/terbaik)
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
murah (tidak murah)
sulit (tidak sulit)
pahit (tidak pahit)
3. Kata Keterangan (Adverbia)
Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan
pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbia.
(1) Adverbia dasar bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya,
tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
(2) Adverbia turunan terbagi atas 3 bentuk berikut.
66 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(a) Adverbia reduplikasi, misalnya ; agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih,
paling-paling.
(b) Adverbia gabungan, misalnya : belum boleh, belum pernah, atau tidak
mungkin.
(c) Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau,
agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.
4. Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
4.1. Kata benda
Kata benda ialah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep,
ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek. Suatu
kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata benda apabila memenuhi
persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh:
mobil (mobil yang bagus/mobil yang sangat bagus)
pemandangan (pemandangan yang indah/pemandangan yang
sangat indah)
pemuda (pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah)
(2) Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an.
Contoh:
permainan
pertunjukan
kesehatan
(3) Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh :
saya (bukan saya)
roti (bukan roti)
gubuk (bukan gubuk)
4.2. Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu
pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda atau
nomina.
Contoh:
Aku sudah mencoba membujuknya.
Kami sangat berharap kepada kalian.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 67
Dia telah meninggalkan kita.
Itu memang miliknya.
4.3. Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk
menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya.
Bapak Bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
Sepertiga dari harta warisan itu disumbangkan ke panti asuhan.
5. Kata Tugas
Kata tugas dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu (1) kata depan,
(2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata seru, dan (5) partikel.
(1) Kata Depan (Preposisi)
Kata depan adalah kata yang menghubungkan dua kata atau dua
kalimat.
Contoh:
di (sebelah) utara = menunjuk arah
ke timur = menunjuk arah
dari pasar = menunjuk tempat
pada hari senin = menunjuk waktu
(2) Kata Sambung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa
yang sederajat: kata dengan kata; frasa dengan frasa, klausa dengan
klausa.
Contoh :
adik dan kakak
makan atau minum
tidak makan, tetapi minum
ia tidak naik kelas karena bodoh
Adi meletakkan tasnya, lalu ia membuka seragamnya.
68 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(3) Kata Sandang (Artikula)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.
Contoh:
sang guru (sang bermakna tunggal)
para pemimpin (para bermakna jamak)
si cantik (si bermakna netral)
(4) Kata Seru (Interjeksi)
Kata seru adalah tugas yang digunakan untuk mengungkapkan seruan
hati.
Contoh:
Aduh, kakiku sakit sekali.
Astaga, mengapa kamu berani mencuri ?
Ayo, jangan putus asa.
“Wah, mahal sekali!” kata adik.
Kata yang dicetak miring adalah kata seru. Contoh lain kata seru adalah
hai, nah, oh, celaka, gila, Masya Allah, dan Alhamdulillah.
(5) Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai,
mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi.
Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah, dan pernyataan
(berita).
Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek, dan -pun
Kita baru saja mempelajari kelas kata beserta ciri-cirinya. Dalam suatu
wacana, tentu terdapat berbagai kata, frasa, dan kalimat. Kita dapat merinci
setiap kata berdasarkan kelas katanya.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3. Kata Ulang
4. Kata Majemuk
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 69
1. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang tidak berimbuhan atau yang belum
diberikan awalan, akhiran, sisipan, dan penggabungan awalan akhiran.
Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar
karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan. Jika katakata
itu diberi imbuhan, hasilnya antara lain terbaik, getaran, pekerja, kesakitan,
dan pegunungan. Jika sudah mengalami penambahan atau pengimbuhan,
kata tersebut sudah dikategorikan ke dalam kata turunan.
2. Kata Turunan
Sebuah kata dapat menyampaikan beberapa pengertian melalui
bentukan-bentukannya. Dari satu kata pula, kita dapat membuat atau
mengembangkannya menjadi beberapa kata turunan. Dari kata turunan
tersebut, kita dapat mengungkapkan satu bahkan beberapa ide/perasaan.
Pemekaran kata dengan memberi imbuhan itu pun akan membuat katakata
tersebut mengalami perubahan jenis atau kelas katanya. Coba Anda
amati kata satu termasuk kata bilangan/numeralia yang berarti “bilangan
asli pertama”. Kata satu diberi awalan ber- menjadi bersatu. Kata tersebut
mengalami perubahan arti, meskipun masih memiliki arti dasar yang tetap,
yaitu “satu”, bersatu artinya berkumpul atau bergabung menjadi satu. Kata
bersatu bukan merupakan kelas kata bilangan lagi, tetapi termasuk kelas
kata kerja.
Bagaimana pengimbuhannya?
Anda telah melihat bahwa dari satu kata (misalnya satu) dapat kita
bentuk belasan kata turunannya. Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan
pertalian yang teratur antara bentuk dan maknanya. Hal ini dapat berlaku
pula pada kata-kata yang lainnya. Perhatikan tabel berikut dengan cermat.
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk baik seluruh kata
maupun sebagian. Semua kata ulang wajib di tulis dengan memakai tanda penghubung ( - ).
Contoh :
lauk-pauk mondar-mandir
asuh pengasuh pengasuhan mengasuh asuhan
baca pembaca pembacaan membaca bacaan
bangun pembangun pembangunan membangun bangunan
buat pembuat pembuatan perbuatan membuat buatan
cetak pencetak pencetakan percetakan mencetak cetakan
edar pengedar pengedaran pengedaran mengedar edaran
potong pemotong pemotongan perpotongan memotong potongan
sapu penyapu penyapuan persapuan menyapu sapuan
tulis penulis penulisan menulis tulisan
ukir pengukir pengukiran mengukir ukiran
impor pengimpor pengimporan mengimpor imporan
KataAsal
Verba
Pelaku Proses Hal/Tempat Perbuatan Hasil
70 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk
baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan
memakai tanda penghubung (-).
Contoh:
lauk-pauk mondar-mandir
anak-anak porak-poranda
berjalan-jalan biri-biri
gerak-gerik kupu-kupu
dibesar-besarkan laba-laba
huru-hara
Macam-macam kata ulang
1. Ulangan seluruh kata dasar
Contoh:
anak-anak meja-meja
buku-buku ibu-ibu
main-main makan-makan
2. Ulangan kata dengan memberi imbuhan
Contoh:
berjalan-jalan bermanja-manja
dibesar-besarkan dipukul-pukulkan
berlari-larian menarik-narik
3. Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang
kedua
Contoh:
gerak-gerik caci-maki
mondar-mandir compang-camping
huru-hara terang-benderang
bolak-balik carut-marut
lauk-pauk
4. Ulangan seluruh kata yang dinamakan kata asal
Misalnya :
anai-anai ubur-ubur
kunang-kunang lobi-lobi
kupu-kupu mata-mata
agar-agar
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 71
4. Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk
satu pengertian.
Contoh:
duta besar
kereta api senja utama
meja tulis guru
rumah makan
terjun payung
buku sejarah baru
kereta api cepat luar biasa
lapangan udara
rumah sakit jiwa
siap tempur
Contoh di atas menunjukkan bahwa kata dasar majemuk dapat sendiri
dari gabungan dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata bahkan dapat
lebih. Hal yang terpenting adalah gabungan kata-kata itu harus menunjuk
kepada satu arti dan tidak melebihi batas fungsi sebagai kata.
Cara penulisan kata majemuk ada yang terpisah atas dua kata atau
lebih, seperti contoh tadi (duta besar, rumah makan) dan ada yang ditulis
serangkai (jika hubungan kedua kata sudah sangat padu).
Contoh:
matahari kacamata
sapu tangan beasiswa
olahraga antarkota
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Kita sudah mempelajari proses pembentukan kata yang semua itu
berpengaruh pada perubahan makna kata dari makna awalnya. Selain
proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan oleh dua hal,
yaitu hubungan referensial dan hubungan antarmakna.
72 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
1. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Referensial
Makna kata ini dibedakan menjadi:
a. Makna denotatif
Makna denotatif ialah makna yang paling dekat dengan bendanya
(makna konseptual), atau kata yang mengandung arti sebenarnya.
Contoh:
1. Bunga mawar itu dipetik Sita dan disuntingkan di rambutnya.
2. Untuk menafkahi kedua anaknya, ia menjual sayuran di pasar.
3. Penjual menawarkan barang kepada pembeli.
4. Bajunya basah kuyup terkena keringat.
b. Makna konotatif
Makna konotatif ialah makna kiasan atau diartikan makna yang
cenderung lain dengan benda nyata (makna kontekstual) disebut juga
makna tambahan.
Contoh :
1. Ayahnya mendapat kursi sebagai anggota dewan.
kursi artinya jabatan/kekuasaan
2. Hatiku berbunga-bunga setelah anakku mendapat juara pertama.
berbunga-bunga artinya gembira
3. Sekarang ia bekerja di tempat yang basah.
basah artinya selalu menghasilkan uang
Dalam pengertian lain makna konotasi berkaitan dengan cakupan
makna halus dan cakupan makna kasar.
Contoh cakupan makna halus:
1. Neneknya sudah meninggal dua hari yang lalu.
2. Istri Pak Dadang seorang perawat di rumah sakit pusat.
3. Ibunya Rosita sedang hamil lima bulan.
4. Mari kita doakan para pahlawan yang telah gugur agar arwahnya
diterima oleh Allah.
Contoh cakupan makna kasar:
1. Pamannya sudah mampus seminggu yang lalu.
2. Kakakku sedang bunting, dia harus berhati-hati.
3. Bininya seorang dokter.
4. Pahlawan telah mati di medan laga.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 73
c. Makna idiomatik (ungkapan)
Secara umum ungkapan berarti gabungan kata yang memberi arti
khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang
sebenarnya.
Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari
beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata
pembentuknya.
Contoh:
− ringan tangan = rajin bekerja, suka memukul
− gerak langkah = perbuatan
− dipeti-eskan = dibekukan atau tidak digunakan
− tertangkap basah = terlihat saat melakukan
− gali lubang tutup lubang = pinjam sini, pinjam sana
− banting stir = mengubah haluan
− jantung hati = kekasih
Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong
perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan
kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan
sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan
ibarat kembang-kembangnya. Dilihat dari bentuk dan prosesnya,
ungkapan dapat diperinci ke dalam beberapa jenis berikut.
1. Menurut jumlah kata
a. Dua kata
− mencari ilham : berusaha mencari ide baru
− bercermin bangkai : menanggung malu
b. Tiga kata atau lebih
− diam seribu bahasa : membisu
− hutangnya setiap helai bulu : tak terhitung banyaknya
2. Menurut zaman
a. Ungkapan lama
− matanya bagai bintang timur : bersinar, tajam
− rambutnya bagai mayang mengurai : ikal, keriting
− berminyak air : berpura-pura
b. Ungkapan baru
− ranjau pers : undang-undang pers
− berebut senja : siang berganti malam
− ranum dunia : penyebab kesulitan
74 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Menurut asalnya
a. Ungkapan berasal dari bahasa asing
− black sheep : kambing hitam
− over nemen : mengambil oper
− side effect : akibat samping
b. Ungkapan berasal dari bahasa daerah
− soko guru : suri tauladan
− anak bawang : yang tidak diutamakan
2. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Antarmakna
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas sinonim,
antonim, dan hiponim.
a. Sinonim
Sinonim ialah pasangan kata atau kelompok kata yang mempunyai arti
mirip atau hampir sama. Walaupun sinonim menunjukkan kesamaan arti
kata, sesungguhnya arti kata-kata itu tidaklah sama betul. Dalam kalimat
tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan tetapi dalam kalimat lain
tidak dapat digunakan atau penggunaannya selalu dipertimbangkan oleh
unsur nilai rasa atau lingkungan penuturnya (kontekstual).
Contoh sinonim dengan kata yang sama maknanya :
− Bung Hatta telah wafat. (telah = sudah)
− Kita merdeka karena jasa Bung Hatta. (karena = sebab)
− Bung Hatta sangat berjasa. (sangat = amat)
Contoh beberapa kata yang memiliki kemiripan makna :
− Tepat di muka gedung kantor pos Jakarta berdirilah sebuah
kompleks bangunan kuno yang kukuh.
− Persis di bangunan kantor pos Jakarta kota tertancaplah
sebuah kawasan bangunan kolot yang kuat.
Makna kalimat 1 dan 2 sama. Namun kalimat 1 lebih jelas isinya, kalimat
2 pilihan katanya kurang tepat sehingga pembaca / pendengar menjadi ragu
menafsirkan maknanya.
b. Antonim
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan maknanya/berlawanan
artinya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 75
Contoh:
a) Sejak sakit batuk, ia pantang minum es.
Ia harus meminum obat itu sesuai yang dianjurkan oleh dokter.
b) Aksi penebangan pohon merupakan perusakan hutan.
Pemerintah menghimbau agar warga melestarikan hutan.
c) Kadang-kadang ia berlatih seminggu sekali.
Nasihat orang tuanya seringkali tidak didengarnya.
d) Perkembangan anak itu sangat lambat.
Dengan tangkasnya, ia menendang bola ke mulut gawang.
Terdapat beberapa perbedaan antara kata-kata yang berantonim.
Oposisi antarkata dapat berbentuk seperti berikut.
a. Oposisi kembar
Contoh:
− laki-laki-perempuan
− jantan–betina
− hidup-mati
b. Oposisi majemuk
Contoh:
− baju-merah
− sapu- tangan
− rumah-makan
c. Oposisi gradual
Contoh:
− kaya- miskin
− panjang- pendek
d. Oposisi relasional (kebalikan)
Contoh:
− orangtua-anak
− guru-murid
− memberi-menerima
e. Oposisi inversi
Contoh:
− Jual-beli
− Pulang-pergi
76 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
f. Oposisi komplementer
Contoh:
− mur-baut
− kompor-minyak
g. Oposisi inkompabilitas
Contoh:
− merah-hijau
h. Oposisi hierarki
Contoh:
- camat lurah.
c. Hiponim
Hiponim ialah kata yang memiliki hubungan hierarkis dengan
beberapa kata yang lain. Hubungan hierarki ini terdiri atas satu kata yang
merupakan induk (hipernim), yang memiliki semua komponen makna kata
lainnya yang menjadi unsur bawahannya (hiponim). Proses hiponim dan
hipernim menimbulkan istilah kata umum dan kata khusus.
Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan umum,
sedangkan kata khusus digunakan untuk perinciannya. Jadi, kata umum
dapat diterapkan untuk semua hal, sedangkan kata khusus diterapkan
untuk hal tertentu saja. Contoh penggunaan kata umum dan khusus dalam
kalimat seperti berikut.
1. Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras.
Berdering (kata khusus), biasanya digunakan untuk bunyi bel. Kata
umumnya ialah bunyi. Kata bunyi bisa digunakan untuk semua suara
benda/sesuatu.
2. Untuk menyambut tahun baru, Ibu merangkai melati dan mawar.
Kata melati dan mawar merupakan kata khusus. Kata umumnya ialah
bunga.
Berdasarkan contoh penggunaan kata umum dan kata khusus di atas,
cermatilah kata umum dan kata khusus pada tabel berikut ini.
Kata Umum Kata Khusus
melihat memandang, menonton, meratap,
menyaksikan, menengok, mengintip
mamalia sapi, kambing, kucing
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 77
pola hidup berfoya-foya, boros, irit, mewah,
sederhana
musik jazz, rock, keroncong.
kendaraan mobil, motor, bus
membawa menjinjing, memikul, memanggul,
menenteng, menggendong
memotong memenggal, mengiris, menebang,
memancung, menggergaji
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk,
Kategori, dan Makna Kata
Kamus dapat membantu seseorang untuk mencari variasi bentukan
kata, kelas kata, dan contoh-contoh pemakaiannya, termasuk pelafalan,
pedoman kata, dan bentuk ungkapannya. Kamus disusun berdasarkan
abjad yang disertai penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Di dalam
kamus, terdapat keterangan tentang hal-hal berikut.
(1) Label bidang ilmu, contoh: Adm (administrasi dan kepegawaian), Anat
(anatomi) Ark (arkeologi).
(2) Dialek, contoh Jw untuk Jawa, BT untuk Batak, Ar untuk Arab, Bld
untuk Belanda.
(3) Ragam bahasa, contoh cak untuk cakapan, hor untuk ragam hormat, kas
untuk ragam kasar.
(4) Penjelasan makna, contoh berlari: berjalan kencang,
(5) Label kelas kata, contoh a (adjektiva), adv (adverbia), n (nomina), v
(verba)
78 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Contoh Lembaran Kamus
E. Bentukan Kata/Frasa Baru
Kata adalah satuan terkecil dari tata bahasa yang bermakna. Makna kata
merupakan perwujudan kesatuan perasaan dari pikiran yang disampaikan
lewat bahasa. Dari satu kata, dapat kita bentuk belasan kata turunannya.
Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan pertalian yang teratur antara
bentuk dan maknanya. Dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata banyak
mengalami penambahan. Hal ini terjadi karena adanya proses asimilasi
dan adaptasi dari kosakata asing dan juga akibat paradigma atau proses
analogi. Paradigma artinya pembentukan kata mengikuti pola atau contoh
yang sudah ada, sedangkan analogi membandingkan pola yang sudah ada.
Pada dasarnya keduanya sama.
Contoh bentukan kata berdasarkan paradigma:
Cuci
Mencuci (perbuatan) pencuci (pelaku) pencucian (proses) cucian (hasil)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 79
Berlaku pula pada kata-kata di bawah ini.
Pelaku Proses Hasil Perbuatan
potong pemotong pemotongan potongan memotong
cetak pencetak pencetakan cetakan mencetak
lukis pelukis pelukisan lukisan melukis
tanam penanam penanaman tanaman menanam
ajar pelajar pembelajaran ajaran mengajar
Bentuk Dasar
Makna
Contoh pembentukan frasa berdasarkan paradigma atau analogi.
1. Dari frasa rumah produksi, muncul frasa yang sejenis, yaitu:
− rumah singgah
− rumah potong
− rumah duka
− rumah industri
2. Dari frasa bawah sadar, muncul frasa baru:
− bawah umur
− bawah standar
− bawah tanah
− bawah harga
3. Dari bentukan kata pramugari dan pramuniaga, muncullah bentukan
kata:
− pramuwisma
− pramusiwi
− pramusaji
− pramuria
− pramuwisata
− pramujasa
4. Dari frasa alih bahasa, timbul frasa:
− alih ragam
− alih ilmu
− alih kuasa
− alih haluan
− alih teknologi
5. Dari frasa hari raya muncul frasa baru :
− jalan raya
− pasar raya
80 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
− panen raya
6. Dari kata tamu agung muncul
− jaksa agung
− upacara agung
− hakim agung
− jumat agung
− dewan pertimbangan agung
− mahkamah agung
− karya agung
7. Dari gabungan kata angkat topi timbul gabungan kata:
− angkat diri
− angkat bicara
− angkat sumpah
− angkat sembah
− angkat bahu
− angkat kaki
8. Dari istilah adipati, timbul istilah:
− adibusana
− adikuasa
− adidaya
− adikarya
Contoh pembentukan kata yang dipengaruhi oleh imbuhan asing.
− -if : aktif, agresif
− -er : komplementer, parlementer
− -al : struktur, normal
− -is : teknis, praktis
− -isasi : modernisasi, normalisasi, legalisasi
− pasca- : pascapanen, pascasarjana
− pra- : prasejarah, prakarsa.
F. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang
Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan,
adakalanya pemakai bahasa tidak cermat memilih kata yang dituangkannya
di dalam kalimat. Akibatnya, kalimat yang diungkapkan tidak tepat atau
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 81
tidak sesuai dengan kaidah yang benar. Kesalahan itu dapat terjadi pada
penggunaan bentuk kata (proses morfologi), pemakaian kelompok kata
(frasa), pemilihan ungkapan, atau keefektifan kalimat.
Dalam bentuk lisan, kesalahan itu terjadi disebabkan oleh hal-hal
berikut.
1. Kesalahan penggunaan imbuhan (bentuk kata).
Contoh :
a. Pintu masuk SMK 3 akan diperlebarkan. (salah)
Pintu masuk SMK 3 akan dilebarkan atau Pintu masuk SMK 3 akan
diperlebar. (benar)
b. Jangan dibiasakan mengenyampingkan masalah itu. (salah)
Jangan dibiasakan mengesampingkan masalah itu. (benar)
c. Rudi sedang mencat pagar rumahnya. (salah)
Rudi sedang mengecat pagar rumahnya. (benar)
2. Ketidaktepatan pemakaian frasa (kelompok kata).
Contoh :
a. Untuk sementara waktu, siswa tidak bisa praktik karena ruangan
sedang direnovasi. (salah)
Untuk sementara siswa tidak bisa praktik karena ruangan sedang
direnovasi. (benar)
b. Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik darat. (salah)
Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik jalan. (benar)
3. Kesalahan kalimat
a. Di dalam darah orang itu mengandung virus HIV. (salah)
Darah orang itu mengandung virus HIV. (benar)
b. Untuk peningkatan mutu pendidikan dari sekolah swasta dimana
memerlukan ketekunan dan keuletan para pamong. (salah)
Untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah swasta diperlukan
ketekunan dan keuletan para pamongnya. (benar)
Kesalahan juga banyak terjadi akibat penggunaan bentukan kata atau
frasa yang baru yang tidak lazim atau tidak benar secara kaidah bahasa.
Ketidaktepatan bentukan kata atau frasa juga dapat disebabkan kesalahan
secara analogi atau paradigma.
82 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Perhatikanlah contoh di bawah ini.
a. pertanggungan jawab dalam kalimat “Laporan pertanggungan jawab
gubernur telah diterima sebagian besar anggota dewan.” (tidak tepat
secara kaidah/tidak lazim) seharusnya pertanggungjawaban.
b. goreng pisang dalam kalimat “Ia membeli goreng pisang untuk adiknya.”
(tidak tepat secara kaidah/tidak lazim ) seharusnya pisang goreng.
c. pengangguran dalam kalimat “Ia menjadi pengangguran setelah
perusahaannya bangkrut.” (salah secara analogi) seharusnya penganggur
dari kata menganggur (verba)-penganggur (nomina)-pengangguran
(nomina proses)
d. ruang rokok untuk ruang khusus merokok (tidak lazim) meskipun
dianalogikan kepada ruang tunggu untuk ruang khusus menunggu.
e. Bentuk kata pemelajaran, tidak tepat secara analogi, sebab kata tersebut
berasal dari kata belajar yang diberi imbuhan pe-an, seperti kata berhenti
menjadi pemberhentian.
f. Kata penglepasan, pada kalimat “ Penglepasan siswa kelas XII dimeriahkan
dengan kegiatan pentas seni dari siswa-siswi.” Tidak tepat secara
analogi, sebab kata dasarnya lepas, jika diberi imbuhan pe-an, menjadi
pelepasan.
Untuk membuat kalimat yang cermat, kita harus memahami ciri kalimat
efektif. Kalimat yang baik atau efektif mempunyai ciri-ciri seperti berikut.
a. Kepadanan
− Memiliki S dan P dengan jelas.
(di depan S tidak boleh ada kata depan dan di depan P tidak boleh
ada kata penghubung yang)
Contoh:
(1) Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah. (benar)
(2) Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar
uang kuliah. (salah)
− Tidak terdapat S ganda.
Contoh:
(1) Dia pulang setelah dia membeli berbagai kebutuhan. (salah)
(2) Dia pulang setelah membeli berbagai kebutuhan. (benar)
− Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai dalam kalimat
tunggal.
Contoh:
(1) Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (salah)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 83
(2) Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (benar)
b. Keparalelan
Persamaan bentuk kata digunakan dalam kalimat yang mengandung
rincian.
Contoh:
(1) Harga minyak dibekukan dan dinaikkan secara bertahap (benar)
(2) Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap.
c. Kehematan
Kehematan menggunakan kata atau frasa
− Menghindarkan penjamakan bentuk jamak
Contoh:
(1) Para tamu-tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (salah)
(2) Para tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (benar)
− Penggunaan kata-kata yang berlebihan.
Contoh:
(1) Ia memakai baju warna merah. (salah)
(2) Ia memakai baju merah. (benar)
d. Kepaduan (tegas dan lugas)
− Hindarkan kalimat bertele-tele.
Contoh:
(1) Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita,
orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa
kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar
dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan
yang adil dan beradab. (salah)
(2) Kita harus dapat mengembalikan kepribadian kita yang sudah
ke luar dari rasa kemanusiaan dan dari kepribadian manusia
Indonesia yang adil dan beradab.
e. Kecermatan
Kecermatan pemakaian kata, penulisan kata, penggunaan tanda baca.
Contoh : Dua puluh lima ribuan.
Bisa diartikan dua puluh lima lemar uang ribuan (Rp 25.000,-)
Atau
Dua puluh lembar uang, lima ribuan.
84 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
RANGKUMAN
A. Klasifikasi Kata berdasarkan Kelas Kata
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) Kata kerja (verba)
(2) Kata sifat (adjektif)
(3) Kata keterangan (adverbia)
(4) Kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan
(numeralia)
(5) Kata tugas yang dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu
(1) kata depan, (2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata
seru, dan (5) partikel.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
(1) Kata Dasar
(2) Kata Turunan
(3) Kata Ulang
(4) Kata Majemuk
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Selain proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan
oleh dua hal, yaitu:
(1) Makna kata berdasarkan hubungan referensial yang dibedakan
menjadi makna denotatif, makna konotatif, dan makna idiomatik
(ungkapan).
(2) Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna yang terdiri atas
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas: sinonim,
antonim, dan hiponim.
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk, Kategori, dan Makna
Kata
Kamus dapat membantu seseorang bukan saja untuk mencari seperti
variasi bentukan kata, kelas kata dan contoh-contoh pemakaiannya,
termasuk pelafalan, pedoman kata, dan bentuk ungkapannya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 85
E. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan atau tulisan masih
terdapat pemakaian bahasa yang kurang cermat dalam memilih kata
yang digunakan pada kalimat sehingga kalimat tidak sesuai dengan
kaidah bahasa yang benar. Ketidakcermatan dapat terjadi pada pemilihan
bentuk kata (proses morfologi, pemakaian kelompok kata (frasa),
pemilihan ungkapan, atau keefektivitasan kalimat. Kesalahan juga bisa
terjadi karena bentukan kata yang baru atau tidak lazim.
Standar
Kompetensi
- Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat
madya
Kompetensi
Dasar
- Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata,
ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja
Indikator
- Mengelompokkan kata, bentuk kata, ungkapan, dan
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata
- Mendaftar kata-kata yang berpotensi memiliki sinonim
dan antonim dalam teks bacaan
- Mengidentifikasi kata (termasuk bentuk kata baru), frasa,
kalimat yang dipersoalkan kebenaran/ketepatannya
(diterima/ditolak) berdasarkan paradigma
atau analogi
- Mengidentifikasi kata, frasa, kalimat, atau bentuk
kata baru yang perlu dipersoalkan kebenarannya/
ketepatannya (diterima/ditolak) berdasarkankan kaidah
atau kelaziman
Pada kelas X, kita sudah belajar tentang kelas kata. Pada bab ini, kita akan
mempelajari kembali kelas kata dalam kaitannya dengan keterampilan
membaca. Selain itu, kita juga akan mempelajari kata berdasarkan
bentukan kata, makna kata, serta mengindentifikasi kata/frasa baru. Setelah
mempelajari bab ini, kita harus mampu mendaftarkan dan mengelompokkan
kata berdasarkan kelas kata dan makna kata. Kita juga harus mampu
mengindentifikasi penggunaan kata, frasa, ungkapan, dan kalimat yang baru
yang tidak benar atau tidak lazim sesuai kaidah bahasa Indonesia.
BAB 4
MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA,
BENTUK KATA UNGKAPAN, DAN KALIMAT
DALAM KONTEKS BEKERJA
62 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Wacana
Kebiasaan Lama Kurangi Sampah Plastik
Kebiasaan lama tak selalu jelek. Bahkan ada yang ramah lingkungan.
Sewaktu kecil, sampai awal tahun 1980-an, kita masih terbiasa melihat
nenek atau ibu-ibu tetangga ke pasar tradisional membawa tas sendiri
yang terbuat dari anyaman pandan atau tas kain. Sejalan merebaknya
pasar swalayan yang menyediakan tas belanja plastik sebagai layanan bagi
pelanggan sekaligus promosi, kebiasaan itu menghilang. Ritual belanja
memang jadi lebih praktis, namun menimbulkan masalah lain: gunungan
sampah!
Padahal, tahukah Anda, plastik itu terbuat dari minyak bumi yang
jumlahnya makin hari makin terbatas? Jadi “Bring your own bag.” Ini
kampanye dari toko pernik interior IKEA di Singapura. Sejak Hari Bumi
22 April 2007, mereka tak lagi menyediakan tas belanja plastik. Para
pelanggan diberi pilihan membawa tas belanja sendiri, beli tas belanja dari
belacu dengan rancangan cantik seharga Sin $ 1,2 (setara Rp 12.000), atau
membeli tas plastik seharga 5 atau 10 sen dolar Singapura, bergantung
pada ukurannya. Jadi, kampanye pengurangan penggunaan plastik bukan
hanya untuk mengurangi gunungan sampah, tapi juga menghemat BBM.
Di pertigaan Rawa Belong, Jakarta Barat, tiap sore hingga malam bisa
kita temui warung tenda “Bubur Ayam Lumayan Bang Tatang.” Bubur nasi
kental dengan tumpukan suwiran ayam ini laris manis. Tak kalah laris, cara
Bang Tatang menyiapkan bubur bagi pelanggannya yang antre sampai ke
luar tenda. One man show, ia menjejerkan 20 mangkuk kosong sekaligus,
dengan gerakan cepat, dalam tempo 5 menit, semuanya sudah terhidang di
hadapan pelanggan.
“Bawa tempat sendiri, saya tak menyediakan plastik, repot dan lama
melayaninya!” katanya dengan nada ketus tiap kali pelanggannya pesan
untuk dibawa pulang. Sombong! Begitulah komentar pembeli yang baru
pertama kali berkunjung. Tapi bila dipikir-pikir, “kesombongan” Bang
Tatang adalah perilaku baik yang ramah lingkungan.
Dulu, bila ingin membeli bakso, soto, atau es kelapa muda di pojok
jalan, banyak di antara kita yang membawa mangkuk sendiri. Sekarang,
pemandangan semacam itu nyaris tak pernah ada. Yang umum justru
banyak yang memanfaatkan kantong plastik. Idealnya, kita harus membawa
rantang susun sendiri bila membeli makanan untuk dibawa pulang dari
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 63
restoran. Tindakan ini untuk mengurangi sampah styrofoam dan plastik.
Bukankah sekarang, wadah makanan banyak yang dirancang cantik?
Dijamin tak bakal bikin malu.
Kampanye penggunaan tas bukan plastik sendiri sebenarnya sudah
cukup lama ada di Indonesia. Pusat perkulakan Makro, misalnya, saat
mulai beroperasi di Indonesia tak menyediakan tas belanja. Pelanggan
dipersilakan mengangkut belanjaan dalam kemasan karton aslinya,
sedangkan perusahaan tata rias The Body Shop sempat mengadakan
kampanye Reuse Reduce Recycle dengan memberikan potongan harga bagi
pelanggannya, yang mengisi ulang produk dengan membawa wadah lama.
Namun, kurangnya peminat membuat The Body Shop mengubah strategi.
Tak lagi menerima wadah lama, tapi mengganti bahan wadah dengan
materi yang lebih cepat terurai di alam.
Untuk mengurangi gunung sampah plastik dan menghemat BBM,
kembalilah pada kebiasaan lama, membawa wadah sendiri untuk jajanan
dan belanjaan kita.
(Sumber: Intisari, Juli 2007)
A. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
Untuk mendayagunakan bahasa secara maksimal, diperlukan kesadaran
akan pentingnya pengayaan kosakat. Kesadaran itulah yang memotivasi
kita untuk lebih rajin membaca. Membaca merupakan kegiatan berbahasa
yang secara aktif menyerap informasi atau pesan yang disampaikan melalui
media tulis, seperti buku, majalah, dan surat kabar. Aktivitas membaca
tidak saja dilakukan untuk menyerap informasi atau pesan yang diuraikan
di dalam bacaan, tetapi membaca dapat juga dilakukan dengan tujuan
menelaah unsur-unsur kebahasaan yang terkandung di dalamnya.
Dalam sebuah bacaan, terkandung banyak unsur bahasa yang berkaitan
dengan makna kata dan ruang lingkupnya. Juga penggunaan gaya bahasa
yang berhubungan dengan ungkapan dan bentuk-bentuk pemakaiannya.
Pada bab ini, kita akan membahas dan menelaah unsur-unsur kebahasaan
di dalam bacaan berkaitan dengan kata, bentuk kata, ungkapan, serta
kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
Kata merupakan unsur yang sangat penting dalam membangun suatu
kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada kalimat. Setiap kata mempunyai
fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan kelas kata atau jenis
64 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
katanya. Di kelas X, kita sudah mempelajari kelas kata dan pada bab ini akan
dibahas kembali tentang kelas kata dan hubungannya dengan kalimat.
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) kata kerja (verba)
(2) kata sifat (adjektif )
(3) kata keterangan (adverbia)
(4) kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
(5) kata tugas
1. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata
kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata dapat digolongkan ke
dalam kelas kata kerja apabila memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat.
Contoh:
pergi (Pergi dengan gembira.)
tidur (Tidur dengan nyenyak.)
jalan (Jalan dengan santai.)
(2) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah.
Contoh:
(akan) mandi
(sedang) tidur
(telah) pergi
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
(tidak) makan
(tidak) lihat
(tidak) pulang
(4) Berawalan me- dan ber-
Contoh:
melatih
melihat
merakit
berdiskusi
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 65
berpikir
berusaha
2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat ialah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau
keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata sifat
berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabila
memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata
sekali.
Contoh:
indah (sangat indah/indah sekali)
baik (sangat baik/baik sekali)
tinggi (sangat tinggi/tinggi sekali)
(2) Dapat diberi awalan se- dan ter-.
Contoh:
luas (seluas/terluas)
bodoh (sebodoh/terbodoh)
mudah (semudah/termudah)
buruk (seburuk/terburuk)
baik (sebaik/terbaik)
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
murah (tidak murah)
sulit (tidak sulit)
pahit (tidak pahit)
3. Kata Keterangan (Adverbia)
Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan
pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbia.
(1) Adverbia dasar bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya,
tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
(2) Adverbia turunan terbagi atas 3 bentuk berikut.
66 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(a) Adverbia reduplikasi, misalnya ; agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih,
paling-paling.
(b) Adverbia gabungan, misalnya : belum boleh, belum pernah, atau tidak
mungkin.
(c) Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau,
agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.
4. Kata Benda (Nomina), Kata Ganti (Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
4.1. Kata benda
Kata benda ialah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep,
ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek. Suatu
kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata benda apabila memenuhi
persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh:
mobil (mobil yang bagus/mobil yang sangat bagus)
pemandangan (pemandangan yang indah/pemandangan yang
sangat indah)
pemuda (pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah)
(2) Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an.
Contoh:
permainan
pertunjukan
kesehatan
(3) Dapat diingkari dengan kata bukan.
Contoh :
saya (bukan saya)
roti (bukan roti)
gubuk (bukan gubuk)
4.2. Kata Ganti (Pronomina)
Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu
pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda atau
nomina.
Contoh:
Aku sudah mencoba membujuknya.
Kami sangat berharap kepada kalian.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 67
Dia telah meninggalkan kita.
Itu memang miliknya.
4.3. Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk
menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya.
Bapak Bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
Sepertiga dari harta warisan itu disumbangkan ke panti asuhan.
5. Kata Tugas
Kata tugas dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu (1) kata depan,
(2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata seru, dan (5) partikel.
(1) Kata Depan (Preposisi)
Kata depan adalah kata yang menghubungkan dua kata atau dua
kalimat.
Contoh:
di (sebelah) utara = menunjuk arah
ke timur = menunjuk arah
dari pasar = menunjuk tempat
pada hari senin = menunjuk waktu
(2) Kata Sambung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa
yang sederajat: kata dengan kata; frasa dengan frasa, klausa dengan
klausa.
Contoh :
adik dan kakak
makan atau minum
tidak makan, tetapi minum
ia tidak naik kelas karena bodoh
Adi meletakkan tasnya, lalu ia membuka seragamnya.
68 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
(3) Kata Sandang (Artikula)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.
Contoh:
sang guru (sang bermakna tunggal)
para pemimpin (para bermakna jamak)
si cantik (si bermakna netral)
(4) Kata Seru (Interjeksi)
Kata seru adalah tugas yang digunakan untuk mengungkapkan seruan
hati.
Contoh:
Aduh, kakiku sakit sekali.
Astaga, mengapa kamu berani mencuri ?
Ayo, jangan putus asa.
“Wah, mahal sekali!” kata adik.
Kata yang dicetak miring adalah kata seru. Contoh lain kata seru adalah
hai, nah, oh, celaka, gila, Masya Allah, dan Alhamdulillah.
(5) Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai,
mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi.
Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah, dan pernyataan
(berita).
Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek, dan -pun
Kita baru saja mempelajari kelas kata beserta ciri-cirinya. Dalam suatu
wacana, tentu terdapat berbagai kata, frasa, dan kalimat. Kita dapat merinci
setiap kata berdasarkan kelas katanya.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3. Kata Ulang
4. Kata Majemuk
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 69
1. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang tidak berimbuhan atau yang belum
diberikan awalan, akhiran, sisipan, dan penggabungan awalan akhiran.
Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar
karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan. Jika katakata
itu diberi imbuhan, hasilnya antara lain terbaik, getaran, pekerja, kesakitan,
dan pegunungan. Jika sudah mengalami penambahan atau pengimbuhan,
kata tersebut sudah dikategorikan ke dalam kata turunan.
2. Kata Turunan
Sebuah kata dapat menyampaikan beberapa pengertian melalui
bentukan-bentukannya. Dari satu kata pula, kita dapat membuat atau
mengembangkannya menjadi beberapa kata turunan. Dari kata turunan
tersebut, kita dapat mengungkapkan satu bahkan beberapa ide/perasaan.
Pemekaran kata dengan memberi imbuhan itu pun akan membuat katakata
tersebut mengalami perubahan jenis atau kelas katanya. Coba Anda
amati kata satu termasuk kata bilangan/numeralia yang berarti “bilangan
asli pertama”. Kata satu diberi awalan ber- menjadi bersatu. Kata tersebut
mengalami perubahan arti, meskipun masih memiliki arti dasar yang tetap,
yaitu “satu”, bersatu artinya berkumpul atau bergabung menjadi satu. Kata
bersatu bukan merupakan kelas kata bilangan lagi, tetapi termasuk kelas
kata kerja.
Bagaimana pengimbuhannya?
Anda telah melihat bahwa dari satu kata (misalnya satu) dapat kita
bentuk belasan kata turunannya. Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan
pertalian yang teratur antara bentuk dan maknanya. Hal ini dapat berlaku
pula pada kata-kata yang lainnya. Perhatikan tabel berikut dengan cermat.
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk baik seluruh kata
maupun sebagian. Semua kata ulang wajib di tulis dengan memakai tanda penghubung ( - ).
Contoh :
lauk-pauk mondar-mandir
asuh pengasuh pengasuhan mengasuh asuhan
baca pembaca pembacaan membaca bacaan
bangun pembangun pembangunan membangun bangunan
buat pembuat pembuatan perbuatan membuat buatan
cetak pencetak pencetakan percetakan mencetak cetakan
edar pengedar pengedaran pengedaran mengedar edaran
potong pemotong pemotongan perpotongan memotong potongan
sapu penyapu penyapuan persapuan menyapu sapuan
tulis penulis penulisan menulis tulisan
ukir pengukir pengukiran mengukir ukiran
impor pengimpor pengimporan mengimpor imporan
KataAsal
Verba
Pelaku Proses Hal/Tempat Perbuatan Hasil
70 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk
baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan
memakai tanda penghubung (-).
Contoh:
lauk-pauk mondar-mandir
anak-anak porak-poranda
berjalan-jalan biri-biri
gerak-gerik kupu-kupu
dibesar-besarkan laba-laba
huru-hara
Macam-macam kata ulang
1. Ulangan seluruh kata dasar
Contoh:
anak-anak meja-meja
buku-buku ibu-ibu
main-main makan-makan
2. Ulangan kata dengan memberi imbuhan
Contoh:
berjalan-jalan bermanja-manja
dibesar-besarkan dipukul-pukulkan
berlari-larian menarik-narik
3. Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang
kedua
Contoh:
gerak-gerik caci-maki
mondar-mandir compang-camping
huru-hara terang-benderang
bolak-balik carut-marut
lauk-pauk
4. Ulangan seluruh kata yang dinamakan kata asal
Misalnya :
anai-anai ubur-ubur
kunang-kunang lobi-lobi
kupu-kupu mata-mata
agar-agar
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 71
4. Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk
satu pengertian.
Contoh:
duta besar
kereta api senja utama
meja tulis guru
rumah makan
terjun payung
buku sejarah baru
kereta api cepat luar biasa
lapangan udara
rumah sakit jiwa
siap tempur
Contoh di atas menunjukkan bahwa kata dasar majemuk dapat sendiri
dari gabungan dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata bahkan dapat
lebih. Hal yang terpenting adalah gabungan kata-kata itu harus menunjuk
kepada satu arti dan tidak melebihi batas fungsi sebagai kata.
Cara penulisan kata majemuk ada yang terpisah atas dua kata atau
lebih, seperti contoh tadi (duta besar, rumah makan) dan ada yang ditulis
serangkai (jika hubungan kedua kata sudah sangat padu).
Contoh:
matahari kacamata
sapu tangan beasiswa
olahraga antarkota
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Kita sudah mempelajari proses pembentukan kata yang semua itu
berpengaruh pada perubahan makna kata dari makna awalnya. Selain
proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan oleh dua hal,
yaitu hubungan referensial dan hubungan antarmakna.
72 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
1. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Referensial
Makna kata ini dibedakan menjadi:
a. Makna denotatif
Makna denotatif ialah makna yang paling dekat dengan bendanya
(makna konseptual), atau kata yang mengandung arti sebenarnya.
Contoh:
1. Bunga mawar itu dipetik Sita dan disuntingkan di rambutnya.
2. Untuk menafkahi kedua anaknya, ia menjual sayuran di pasar.
3. Penjual menawarkan barang kepada pembeli.
4. Bajunya basah kuyup terkena keringat.
b. Makna konotatif
Makna konotatif ialah makna kiasan atau diartikan makna yang
cenderung lain dengan benda nyata (makna kontekstual) disebut juga
makna tambahan.
Contoh :
1. Ayahnya mendapat kursi sebagai anggota dewan.
kursi artinya jabatan/kekuasaan
2. Hatiku berbunga-bunga setelah anakku mendapat juara pertama.
berbunga-bunga artinya gembira
3. Sekarang ia bekerja di tempat yang basah.
basah artinya selalu menghasilkan uang
Dalam pengertian lain makna konotasi berkaitan dengan cakupan
makna halus dan cakupan makna kasar.
Contoh cakupan makna halus:
1. Neneknya sudah meninggal dua hari yang lalu.
2. Istri Pak Dadang seorang perawat di rumah sakit pusat.
3. Ibunya Rosita sedang hamil lima bulan.
4. Mari kita doakan para pahlawan yang telah gugur agar arwahnya
diterima oleh Allah.
Contoh cakupan makna kasar:
1. Pamannya sudah mampus seminggu yang lalu.
2. Kakakku sedang bunting, dia harus berhati-hati.
3. Bininya seorang dokter.
4. Pahlawan telah mati di medan laga.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 73
c. Makna idiomatik (ungkapan)
Secara umum ungkapan berarti gabungan kata yang memberi arti
khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang
sebenarnya.
Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari
beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata
pembentuknya.
Contoh:
− ringan tangan = rajin bekerja, suka memukul
− gerak langkah = perbuatan
− dipeti-eskan = dibekukan atau tidak digunakan
− tertangkap basah = terlihat saat melakukan
− gali lubang tutup lubang = pinjam sini, pinjam sana
− banting stir = mengubah haluan
− jantung hati = kekasih
Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong
perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan
kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan
sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan
ibarat kembang-kembangnya. Dilihat dari bentuk dan prosesnya,
ungkapan dapat diperinci ke dalam beberapa jenis berikut.
1. Menurut jumlah kata
a. Dua kata
− mencari ilham : berusaha mencari ide baru
− bercermin bangkai : menanggung malu
b. Tiga kata atau lebih
− diam seribu bahasa : membisu
− hutangnya setiap helai bulu : tak terhitung banyaknya
2. Menurut zaman
a. Ungkapan lama
− matanya bagai bintang timur : bersinar, tajam
− rambutnya bagai mayang mengurai : ikal, keriting
− berminyak air : berpura-pura
b. Ungkapan baru
− ranjau pers : undang-undang pers
− berebut senja : siang berganti malam
− ranum dunia : penyebab kesulitan
74 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
3. Menurut asalnya
a. Ungkapan berasal dari bahasa asing
− black sheep : kambing hitam
− over nemen : mengambil oper
− side effect : akibat samping
b. Ungkapan berasal dari bahasa daerah
− soko guru : suri tauladan
− anak bawang : yang tidak diutamakan
2. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Antarmakna
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas sinonim,
antonim, dan hiponim.
a. Sinonim
Sinonim ialah pasangan kata atau kelompok kata yang mempunyai arti
mirip atau hampir sama. Walaupun sinonim menunjukkan kesamaan arti
kata, sesungguhnya arti kata-kata itu tidaklah sama betul. Dalam kalimat
tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan tetapi dalam kalimat lain
tidak dapat digunakan atau penggunaannya selalu dipertimbangkan oleh
unsur nilai rasa atau lingkungan penuturnya (kontekstual).
Contoh sinonim dengan kata yang sama maknanya :
− Bung Hatta telah wafat. (telah = sudah)
− Kita merdeka karena jasa Bung Hatta. (karena = sebab)
− Bung Hatta sangat berjasa. (sangat = amat)
Contoh beberapa kata yang memiliki kemiripan makna :
− Tepat di muka gedung kantor pos Jakarta berdirilah sebuah
kompleks bangunan kuno yang kukuh.
− Persis di bangunan kantor pos Jakarta kota tertancaplah
sebuah kawasan bangunan kolot yang kuat.
Makna kalimat 1 dan 2 sama. Namun kalimat 1 lebih jelas isinya, kalimat
2 pilihan katanya kurang tepat sehingga pembaca / pendengar menjadi ragu
menafsirkan maknanya.
b. Antonim
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan maknanya/berlawanan
artinya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 75
Contoh:
a) Sejak sakit batuk, ia pantang minum es.
Ia harus meminum obat itu sesuai yang dianjurkan oleh dokter.
b) Aksi penebangan pohon merupakan perusakan hutan.
Pemerintah menghimbau agar warga melestarikan hutan.
c) Kadang-kadang ia berlatih seminggu sekali.
Nasihat orang tuanya seringkali tidak didengarnya.
d) Perkembangan anak itu sangat lambat.
Dengan tangkasnya, ia menendang bola ke mulut gawang.
Terdapat beberapa perbedaan antara kata-kata yang berantonim.
Oposisi antarkata dapat berbentuk seperti berikut.
a. Oposisi kembar
Contoh:
− laki-laki-perempuan
− jantan–betina
− hidup-mati
b. Oposisi majemuk
Contoh:
− baju-merah
− sapu- tangan
− rumah-makan
c. Oposisi gradual
Contoh:
− kaya- miskin
− panjang- pendek
d. Oposisi relasional (kebalikan)
Contoh:
− orangtua-anak
− guru-murid
− memberi-menerima
e. Oposisi inversi
Contoh:
− Jual-beli
− Pulang-pergi
76 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
f. Oposisi komplementer
Contoh:
− mur-baut
− kompor-minyak
g. Oposisi inkompabilitas
Contoh:
− merah-hijau
h. Oposisi hierarki
Contoh:
- camat lurah.
c. Hiponim
Hiponim ialah kata yang memiliki hubungan hierarkis dengan
beberapa kata yang lain. Hubungan hierarki ini terdiri atas satu kata yang
merupakan induk (hipernim), yang memiliki semua komponen makna kata
lainnya yang menjadi unsur bawahannya (hiponim). Proses hiponim dan
hipernim menimbulkan istilah kata umum dan kata khusus.
Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan umum,
sedangkan kata khusus digunakan untuk perinciannya. Jadi, kata umum
dapat diterapkan untuk semua hal, sedangkan kata khusus diterapkan
untuk hal tertentu saja. Contoh penggunaan kata umum dan khusus dalam
kalimat seperti berikut.
1. Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras.
Berdering (kata khusus), biasanya digunakan untuk bunyi bel. Kata
umumnya ialah bunyi. Kata bunyi bisa digunakan untuk semua suara
benda/sesuatu.
2. Untuk menyambut tahun baru, Ibu merangkai melati dan mawar.
Kata melati dan mawar merupakan kata khusus. Kata umumnya ialah
bunga.
Berdasarkan contoh penggunaan kata umum dan kata khusus di atas,
cermatilah kata umum dan kata khusus pada tabel berikut ini.
Kata Umum Kata Khusus
melihat memandang, menonton, meratap,
menyaksikan, menengok, mengintip
mamalia sapi, kambing, kucing
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 77
pola hidup berfoya-foya, boros, irit, mewah,
sederhana
musik jazz, rock, keroncong.
kendaraan mobil, motor, bus
membawa menjinjing, memikul, memanggul,
menenteng, menggendong
memotong memenggal, mengiris, menebang,
memancung, menggergaji
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk,
Kategori, dan Makna Kata
Kamus dapat membantu seseorang untuk mencari variasi bentukan
kata, kelas kata, dan contoh-contoh pemakaiannya, termasuk pelafalan,
pedoman kata, dan bentuk ungkapannya. Kamus disusun berdasarkan
abjad yang disertai penjelasan tentang makna dan pemakaiannya. Di dalam
kamus, terdapat keterangan tentang hal-hal berikut.
(1) Label bidang ilmu, contoh: Adm (administrasi dan kepegawaian), Anat
(anatomi) Ark (arkeologi).
(2) Dialek, contoh Jw untuk Jawa, BT untuk Batak, Ar untuk Arab, Bld
untuk Belanda.
(3) Ragam bahasa, contoh cak untuk cakapan, hor untuk ragam hormat, kas
untuk ragam kasar.
(4) Penjelasan makna, contoh berlari: berjalan kencang,
(5) Label kelas kata, contoh a (adjektiva), adv (adverbia), n (nomina), v
(verba)
78 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Contoh Lembaran Kamus
E. Bentukan Kata/Frasa Baru
Kata adalah satuan terkecil dari tata bahasa yang bermakna. Makna kata
merupakan perwujudan kesatuan perasaan dari pikiran yang disampaikan
lewat bahasa. Dari satu kata, dapat kita bentuk belasan kata turunannya.
Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan pertalian yang teratur antara
bentuk dan maknanya. Dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata banyak
mengalami penambahan. Hal ini terjadi karena adanya proses asimilasi
dan adaptasi dari kosakata asing dan juga akibat paradigma atau proses
analogi. Paradigma artinya pembentukan kata mengikuti pola atau contoh
yang sudah ada, sedangkan analogi membandingkan pola yang sudah ada.
Pada dasarnya keduanya sama.
Contoh bentukan kata berdasarkan paradigma:
Cuci
Mencuci (perbuatan) pencuci (pelaku) pencucian (proses) cucian (hasil)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 79
Berlaku pula pada kata-kata di bawah ini.
Pelaku Proses Hasil Perbuatan
potong pemotong pemotongan potongan memotong
cetak pencetak pencetakan cetakan mencetak
lukis pelukis pelukisan lukisan melukis
tanam penanam penanaman tanaman menanam
ajar pelajar pembelajaran ajaran mengajar
Bentuk Dasar
Makna
Contoh pembentukan frasa berdasarkan paradigma atau analogi.
1. Dari frasa rumah produksi, muncul frasa yang sejenis, yaitu:
− rumah singgah
− rumah potong
− rumah duka
− rumah industri
2. Dari frasa bawah sadar, muncul frasa baru:
− bawah umur
− bawah standar
− bawah tanah
− bawah harga
3. Dari bentukan kata pramugari dan pramuniaga, muncullah bentukan
kata:
− pramuwisma
− pramusiwi
− pramusaji
− pramuria
− pramuwisata
− pramujasa
4. Dari frasa alih bahasa, timbul frasa:
− alih ragam
− alih ilmu
− alih kuasa
− alih haluan
− alih teknologi
5. Dari frasa hari raya muncul frasa baru :
− jalan raya
− pasar raya
80 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
− panen raya
6. Dari kata tamu agung muncul
− jaksa agung
− upacara agung
− hakim agung
− jumat agung
− dewan pertimbangan agung
− mahkamah agung
− karya agung
7. Dari gabungan kata angkat topi timbul gabungan kata:
− angkat diri
− angkat bicara
− angkat sumpah
− angkat sembah
− angkat bahu
− angkat kaki
8. Dari istilah adipati, timbul istilah:
− adibusana
− adikuasa
− adidaya
− adikarya
Contoh pembentukan kata yang dipengaruhi oleh imbuhan asing.
− -if : aktif, agresif
− -er : komplementer, parlementer
− -al : struktur, normal
− -is : teknis, praktis
− -isasi : modernisasi, normalisasi, legalisasi
− pasca- : pascapanen, pascasarjana
− pra- : prasejarah, prakarsa.
F. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang
Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan,
adakalanya pemakai bahasa tidak cermat memilih kata yang dituangkannya
di dalam kalimat. Akibatnya, kalimat yang diungkapkan tidak tepat atau
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 81
tidak sesuai dengan kaidah yang benar. Kesalahan itu dapat terjadi pada
penggunaan bentuk kata (proses morfologi), pemakaian kelompok kata
(frasa), pemilihan ungkapan, atau keefektifan kalimat.
Dalam bentuk lisan, kesalahan itu terjadi disebabkan oleh hal-hal
berikut.
1. Kesalahan penggunaan imbuhan (bentuk kata).
Contoh :
a. Pintu masuk SMK 3 akan diperlebarkan. (salah)
Pintu masuk SMK 3 akan dilebarkan atau Pintu masuk SMK 3 akan
diperlebar. (benar)
b. Jangan dibiasakan mengenyampingkan masalah itu. (salah)
Jangan dibiasakan mengesampingkan masalah itu. (benar)
c. Rudi sedang mencat pagar rumahnya. (salah)
Rudi sedang mengecat pagar rumahnya. (benar)
2. Ketidaktepatan pemakaian frasa (kelompok kata).
Contoh :
a. Untuk sementara waktu, siswa tidak bisa praktik karena ruangan
sedang direnovasi. (salah)
Untuk sementara siswa tidak bisa praktik karena ruangan sedang
direnovasi. (benar)
b. Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik darat. (salah)
Bus Parahiyangan sudah dinyatakan laik jalan. (benar)
3. Kesalahan kalimat
a. Di dalam darah orang itu mengandung virus HIV. (salah)
Darah orang itu mengandung virus HIV. (benar)
b. Untuk peningkatan mutu pendidikan dari sekolah swasta dimana
memerlukan ketekunan dan keuletan para pamong. (salah)
Untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah swasta diperlukan
ketekunan dan keuletan para pamongnya. (benar)
Kesalahan juga banyak terjadi akibat penggunaan bentukan kata atau
frasa yang baru yang tidak lazim atau tidak benar secara kaidah bahasa.
Ketidaktepatan bentukan kata atau frasa juga dapat disebabkan kesalahan
secara analogi atau paradigma.
82 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
Perhatikanlah contoh di bawah ini.
a. pertanggungan jawab dalam kalimat “Laporan pertanggungan jawab
gubernur telah diterima sebagian besar anggota dewan.” (tidak tepat
secara kaidah/tidak lazim) seharusnya pertanggungjawaban.
b. goreng pisang dalam kalimat “Ia membeli goreng pisang untuk adiknya.”
(tidak tepat secara kaidah/tidak lazim ) seharusnya pisang goreng.
c. pengangguran dalam kalimat “Ia menjadi pengangguran setelah
perusahaannya bangkrut.” (salah secara analogi) seharusnya penganggur
dari kata menganggur (verba)-penganggur (nomina)-pengangguran
(nomina proses)
d. ruang rokok untuk ruang khusus merokok (tidak lazim) meskipun
dianalogikan kepada ruang tunggu untuk ruang khusus menunggu.
e. Bentuk kata pemelajaran, tidak tepat secara analogi, sebab kata tersebut
berasal dari kata belajar yang diberi imbuhan pe-an, seperti kata berhenti
menjadi pemberhentian.
f. Kata penglepasan, pada kalimat “ Penglepasan siswa kelas XII dimeriahkan
dengan kegiatan pentas seni dari siswa-siswi.” Tidak tepat secara
analogi, sebab kata dasarnya lepas, jika diberi imbuhan pe-an, menjadi
pelepasan.
Untuk membuat kalimat yang cermat, kita harus memahami ciri kalimat
efektif. Kalimat yang baik atau efektif mempunyai ciri-ciri seperti berikut.
a. Kepadanan
− Memiliki S dan P dengan jelas.
(di depan S tidak boleh ada kata depan dan di depan P tidak boleh
ada kata penghubung yang)
Contoh:
(1) Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang
kuliah. (benar)
(2) Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar
uang kuliah. (salah)
− Tidak terdapat S ganda.
Contoh:
(1) Dia pulang setelah dia membeli berbagai kebutuhan. (salah)
(2) Dia pulang setelah membeli berbagai kebutuhan. (benar)
− Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai dalam kalimat
tunggal.
Contoh:
(1) Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (salah)
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 83
(2) Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama. (benar)
b. Keparalelan
Persamaan bentuk kata digunakan dalam kalimat yang mengandung
rincian.
Contoh:
(1) Harga minyak dibekukan dan dinaikkan secara bertahap (benar)
(2) Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap.
c. Kehematan
Kehematan menggunakan kata atau frasa
− Menghindarkan penjamakan bentuk jamak
Contoh:
(1) Para tamu-tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (salah)
(2) Para tamu mencicipi hidangan yang disediakan. (benar)
− Penggunaan kata-kata yang berlebihan.
Contoh:
(1) Ia memakai baju warna merah. (salah)
(2) Ia memakai baju merah. (benar)
d. Kepaduan (tegas dan lugas)
− Hindarkan kalimat bertele-tele.
Contoh:
(1) Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita,
orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa
kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar
dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan
yang adil dan beradab. (salah)
(2) Kita harus dapat mengembalikan kepribadian kita yang sudah
ke luar dari rasa kemanusiaan dan dari kepribadian manusia
Indonesia yang adil dan beradab.
e. Kecermatan
Kecermatan pemakaian kata, penulisan kata, penggunaan tanda baca.
Contoh : Dua puluh lima ribuan.
Bisa diartikan dua puluh lima lemar uang ribuan (Rp 25.000,-)
Atau
Dua puluh lembar uang, lima ribuan.
84 Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI
RANGKUMAN
A. Klasifikasi Kata berdasarkan Kelas Kata
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) Kata kerja (verba)
(2) Kata sifat (adjektif)
(3) Kata keterangan (adverbia)
(4) Kata benda (nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan
(numeralia)
(5) Kata tugas yang dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu
(1) kata depan, (2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata
seru, dan (5) partikel.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
(1) Kata Dasar
(2) Kata Turunan
(3) Kata Ulang
(4) Kata Majemuk
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Selain proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan
oleh dua hal, yaitu:
(1) Makna kata berdasarkan hubungan referensial yang dibedakan
menjadi makna denotatif, makna konotatif, dan makna idiomatik
(ungkapan).
(2) Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna yang terdiri atas
Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna terdiri atas: sinonim,
antonim, dan hiponim.
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk, Kategori, dan Makna
Kata
Kamus dapat membantu seseorang bukan saja untuk mencari seperti
variasi bentukan kata, kelas kata dan contoh-contoh pemakaiannya,
termasuk pelafalan, pedoman kata, dan bentuk ungkapannya.
Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Madya Kelas XI 85
E. Pemakaian Kata , Frasa, dan Kalimat yang Kurang Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan atau tulisan masih
terdapat pemakaian bahasa yang kurang cermat dalam memilih kata
yang digunakan pada kalimat sehingga kalimat tidak sesuai dengan
kaidah bahasa yang benar. Ketidakcermatan dapat terjadi pada pemilihan
bentuk kata (proses morfologi, pemakaian kelompok kata (frasa),
pemilihan ungkapan, atau keefektivitasan kalimat. Kesalahan juga bisa
terjadi karena bentukan kata yang baru atau tidak lazim.
Minggu, 21 Februari 2010
Pengenalan Bahasa

Frase, Klausa, dan Kalimat
A. Frase
Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.
Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu
a. Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
b. Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.
Macam-macam frase:
A. Frase endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:
1. Frase endosentrik yang koordinatif, yaitu: frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.
Misalnya: kakek-nenek pembinaan dan pengembangan
laki bini belajar atau bekerja
2. Frase endosentrik yang atributif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan.
Misalnya: perjalanan panjang
hari libur
Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif.
3. Frase endosentrik yang apositif: frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan.
Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.
Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
Susi, …., sangat pandai.
…., anak Pak Saleh sangat pandai.
Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap).
B. Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.
Misalnya:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.
Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di ….
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. kelas
C. Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.
1. Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal.
Misalnya: baju baru, rumah sakit
2. Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan kata verbal.
Misalnya: akan berlayar
3. Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.
Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4. Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.
Misalnya: tadi pagi, besok sore
5. Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinnya.
Misalnya: di halaman sekolah, dari desa
D. Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.
Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku.
Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda:
1. Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.
2. Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita.
B. Klausa
Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.
Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P).
Penggolongan klausa:
1. Berdasarkan unsur intinya
2. Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik menegatifkan predikat
3. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat
C. Kalimat
a. Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.
Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.
b. Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
1. Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
2. Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
3. Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
4. Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial
D. Jenis Kalimat
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.
Kalimat Tunggal Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci. S-P
S-P-O
S-P-O-K
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a. Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya: Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b. Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
Misalnya: Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.
1) Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a. Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan, serta, lagipula, dan sebagainya.
Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b. Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c. Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.
2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
Misalnya: Diakuinya hal itu
P S
Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
anak kalimat pengganti subjek
b. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
Misalnya: Katanya begitu
Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
anak kalimat pengganti predikat
c. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
Misalnya: Mereka sudah mengetahui hal itu.
S P O
Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
anak kalimat pengganti objek
d. Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
Misalnya: Ayah pulang malam hari
S P K
Ayah pulang ketika kami makan malam
anak kalimat pengganti keterangan
3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
Ketika ia duduk minum-minum
pola atasan
datang seorang pemuda berpakaian bagus
pola bawahan I
datang menggunakan kendaraan roda empat
pola bawahan II
3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a. Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1) Hanya terdiri atas dua kata
2) Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3) Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4) Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b. Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
c. Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a. Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b. Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
c. Kalimat transformasi. Contoh:
i) Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii) Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii) Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv) Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?
4. Kalimat Mayor dan Minor
a. Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh: Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
Kiki pergi ke Bandung.
Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah.
b. Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Diam!
Sudah siap?
Pergi!
Yang baru!
Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Amir mengambil.
Arif ada.
Kiki pergi
Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.
5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat
1. kontaminasi= merancukan 2 struktur benar 1 struktur salah
contoh:
diperlebar, dilebarkan diperlebarkan (salah)
memperkuat, menguatkan memperkuatkan (salah)
sangat baik, baik sekali sangat baik sekali (salah)
saling memukul, pukul-memukul saling pukul-memukul (salah)
Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
2. pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :
para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
banyak siswa-siswa (banyak siswa)
saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3. tidak memiliki subjek
contoh:
Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4. adanya kata depan yang tidak perlu
Perkembangan daripada teknologi informasi sangat pesat.
Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5. salah nalar
waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)
6. kesalahan pembentukan kata
mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
menyetop seharusnya menstop
mensoal seharusnya menyoal
ilmiawan seharusnya ilmuwan
sejarawan seharusnya ahli sejarah
7. pengaruh bahasa asing
Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8. pengaruh bahasa daerah
… sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
… oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
.
E. Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1. Konjungsi antarklausa
a. Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b. Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2. Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3. Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.
Langganan:
Postingan (Atom)